Jumat 15 May 2020 01:10 WIB

Meski Pandemi, Aset Jamsyar Tumbuh Hingga 14,09 Persen

Pertumbuhan aset Jamsyar berdasarkan bisnis dan penambahan modal disetor Jamkrindo

Direktur Utama PT JamSyar Gatot Suprabowo dan Direktur Keuangan, SDM dan Umum, Endang Sri Winarni.  Hingga 20 April, total Aset Jamsyar telah mencapai Rp 1,2 triliun atau tumbuh sebesar 14,09 persen dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu.
Direktur Utama PT JamSyar Gatot Suprabowo dan Direktur Keuangan, SDM dan Umum, Endang Sri Winarni. Hingga 20 April, total Aset Jamsyar telah mencapai Rp 1,2 triliun atau tumbuh sebesar 14,09 persen dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama Jamkrindo Syariah (Jamsyar) Gatot Suprabowo menyatakan, meski di tengah pandemi Covid-19, kinerja Jamsyar masih membaik. Hingga 20 April, total Aset Jamsyar telah mencapai Rp 1,2 triliun atau tumbuh sebesar 14,09 persen dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu. 

"Pertumbuhan tersebut merupakan kontribusi dari pertumbuhan bisnis, di samping adanya penambahan modal disetor oleh Jamkrindo sebesar Rp 75 miliar di awal tahun 2020," tutur Gatot berdasarkan rilis yang diterima Republika.co.id, Kamis (14/5).

Dari sisi pencapaian laba, laba tahun berjalan Jamsyar di posisi yang sama mencapai Rp 18,71 miliar atau sebesar 35,27 persen dibandingkan dengan target laba tahun 2020. Apabila dibandingkan dengan pencapaian laba di posisi yang sama tahun lalu, maka laba Jamsyar tumbuh sebesar 17,23 persen yoy.

Sementara itu menurut Gatot, dari sisi produksi, volume penjaminan dapat dikatakan masih sesuai dengan target.  Sesuai dengan siklus tahunan produksi, pada posisi tersebut adalah sebesar 30 persen, sementara realisasi penjaminan adalah sebesar 29,69 persen. "Produk utama pada periode tersebut adalah Surety Bond, Kontra Bank Garansi dan Penjaminan FLPP. Sesuai dengan POJK mengenai tingkat kesehatan keuangan perusahaan penjaminan, pada periode tersebut nilai tingkat Kesehatan adalah sebesar 1,2 yang berarti Jamsyar berada pada kondisi Sangat Sehat," ungkap dia.

Namun demikian, sejalan dengan adanya penerapan PSBB di berbagai provinsi, tentu saja berpotensi menimbulkan risiko yang akan berdampak pada kinerja Jamsyar. Beberapa risiko terkait dengan hal tersebut adalah berkurangnya pencairan pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan dan proyek pemerintah maupun swasta. 

"Hal ini membutuhkan kejelian bagi Jamsyar untuk tetap mempertahankan kegiatan bisnisnya. Selain itu, terdapat kemungkinan adanya peningkatan pengajuan klaim oleh mitra kerja," tutur dia.

Untuk itu, Jamsyar telah mengantisipasi dengan melakukan upaya pendekatan kepada mitra perbankan untuk melakukan restrukturisasi sesuai dengan kebijakan relaksasi yang dikeluarkan oleh OJK. Dari sisi kemampuan pembayaran kewajiban, likuiditas Jamsyar masih sangat bagus, yaitu sebesar 550 persen, dimana sesuai ketentuan POJK, nilai likuiditas dinyatakan dalam kondisi sangat bagus apabila berada di rentang 130 persen sampai dengan 800 persen.

Mengingat kondisi pandemic covid-19 dan dampaknya bagi perekonomian, dimana pemerintah telah merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia, maka Jamsyar juga telah membuat kajian dampak covid-19 terhadap kinerja Jamsyar di tahun 2020, dengan 3 skenario. Dalam skenario moderat, Jamsyar mengasumsikan pandemic berakhir pada Bulan September 2020, dan perusahaan berjalan normal kembali pada bulan Oktober 2020. Sesuai dengan asumsi tersebut, maka IJK Cash Basis ditargetkan mencapai Rp 318 miliar dari target semula sebesar Rp 400 miliar (79,50 persen). 

Beban klaim diproyeksikan meningkat menjadi sebesar Rp 114 miliar dari anggaran semula sebesar Rp 93,5 miliar (121,93 persen). Atas klaim tersebut, diharapkan Jamsyar mendapatkan recovery sebesar Rp 34,9 miliar. Pendapatan investasi juga diproyeksikan menjadi sebesar Rp 55,5 miliar dari target semula Rp 58,5 miliar (94,87 persen). 

Untuk mengimbangi berkurangnya pendapatan dan peningkatan beban klaim, maka Jamsyar melakukan efisiensi biaya, berupa beban operasional dan beban umum serta administrasi. Dengan upaya tersebut, diharapkan laba tahun berjalan mencapai Rp 40 miliar dari target semula sebesar Rp 53 milliar (75,47 persen). Meskipun menurun dari target, namun laba tersebut tetap tumbuh dibandingkan dengan tahun lalu, yaitu sebesar Rp 36,5 miliar atau tumbuh sebesar 9,59 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement