Aktivitas Rasulullah pada 10 Hari Terakhir Ramadhan

Red: Hasanul Rizqa

 Selasa 12 May 2020 21:31 WIB

Rasulullah SAW (ilustrasi) Foto: Republika/Kurnia Fakhrini Rasulullah SAW (ilustrasi)

Inilah aktivitas Rasulullah bila memasuki 10 hari terakhir Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, ada banyak keistimewaan. Di antaranya, itu bisa kita renungkan dari contoh Nabi Muhammad SAW, teladan semesta alam.

Baca Juga

Rasulullah SAW lebih bersemangat dalam menunaikan berbagai macam ibadah dibandingkan hari-hari lainnya (HR Muslim). Dalam hadis lain disebutkan, bila memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, Nabi SAW menyingsingkan lengan baju, menghidupkan seluruh malamnya, dan membangunkan keluarganya (HR Bukhari).

Menyingsingkan lengan baju maknanya siap beribadah dengan sungguh-sungguh lebih dari biasanya atau tidak mengumpuli istrinya demi konsentrasi untuk shalat dan zikir. Rasulullah SAW menghidupkan seluruh malamnya dengan qiyam, tilawatul Quran, zikir dengan hati, lisan, dan anggota badan karena mulianya malam-malam ini dan untuk menanti Lailatul Qadar.

Amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah pada malam-malam 10 terakhir adalah pertama, menghidupkan malam-malamnya untuk beribadah, shalat, zikir, dan lain-lain.

Dalam riwayat an-Nasa’i dari Siti Aisyah ia berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah SAW membaca Alquran atau shalat sepanjang malam sampai pagi selain bulan Ramadhan.”

Membangunkan keluarganya untuk menegakkan shalat. Sebagaimana diriwayatkan Bukhari dari Siti Aisyah, Rasul SAW membangunkan keluarga di malam hari bukan khusus pada bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, pada 10 hari terakhir Ramadhan beliau lebih rajin dan bersegera untuk membangunkan keluarga.

Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Apabila memasuki 10 hari terakhir beliau bertahajud, bersungguh- sungguh, dan membangunkan keluarganya dan anak-anaknya untuk shalat bila mereka mampu.”

Menyingsingkan lengan baju sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas. Maksudnya adalah, beliau menjauhi istrinya agar bisa tekun beribadah.

Beliau juga menunaikan iktikaf di masjid. Rasulullah senantiasa beriktikaf di 10 hari terakhir Ramadhan sampai beliau wafat (HR Bukhari dan Muslim). Beliau beriktikaf untuk menggapai Lailatul Qadar. Beliau mengkhususkan tikar yang agak jauh dari yang lain agar lebih khusyuk.

Di antara amalan penting lainnya adalah tilawatul Quran--membaca Alquran--dengan khusyuk. Beliau mengkhatamkan Alquran minimal dua kali pada bulan Ramadhan.

Para ulama salaf sangat tekun untuk membaca Alquran. Al-Aswad bin Yazid selalu mengkhatamkan Alquran dalam enam hari bila masuk Ramadhan mengkhatamkannya tiga hari, dan bila masuk 10 hari terakhir mengkhatamkannya setiap malam. Imam As-Syafi’i selalu mengkhatamkan Alquran setiap hari pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Rasulullah sudah memberikan contoh untuk mengoptimalkan 10 hari terakhir Ramadhan. Demikian juga, dengan para salafus saleh. Sudah selayaknya, kita sebagai umat Islam mengikuti petunjuk ini dan memanfaatkan serta memaksimalkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Baik dengan berzikir, iktikaf, tadarus Alquran, shalawat, ataupun lainnya.

Tak harus di masjid. Di kediaman masing-masing pun ibadah dapat dilangsungkan.

sumber : Hikmah Republika oleh Achmad Satori Ismail
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X