Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Pertama Kali CO2 India Turun Tajam dalam Empat Dekade

Rabu 13 May 2020 03:18 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Emisi gas karbon (CO2) India turun untuk pertama kalinya dalam empat dekade. Ilustrasi.

Emisi gas karbon (CO2) India turun untuk pertama kalinya dalam empat dekade. Ilustrasi.

Foto: concurringopinions.com
Emisi gas karbon (CO2) India turun untuk pertama kalinya dalam empat dekade

REPUBLIKA.CO.ID NEW DELHI - Emisi gas karbon (CO2) India dilaporkan telah turun untuk pertama kalinya dalam empat dekade. Menurunnya indikator pencemaran udara ini, salah satunya disebabkan karena kebijakan lockdown atau karantina wilayah demi mengekang penyebaran Covid-19.

Menurut analisis oleh situs web lingkungan, Carbon Brief, jauh sebelum wabah Covid-19 menurunnya penggunaan listrik dan persaingan dari energi terbarukan telah melemahkan permintaan akan bahan bakar fosil. Namun demikian, lockdown nasional pada Maret yang akhirnya membalikkan tren pertumbuhan emisi 37 tahun negara itu.

Dilansir BBC, studi ini merekam bahwa emisi karbon dioksida India turun 15 persen pada Maret. Bulan berikutnya yakni April, kemungkinan akan turun 30 persen.

Hampir semua penurunan permintaan energi ditanggung oleh generator berbahan bakar batu bara. Itulah yang menjelaskan mengapa pengurangan emisi begitu dramatis.

Menurut data harian dari jaringan nasional India, pembangkit listrik tenaga batu bara turun 15 persen pada Maret. Sementara 31 persen dalam tiga pekan pertama bulan April juga dicatat turun.

Namun demikian, bahkan sebelum kebijakan lockdown Perdana Menteri Narendra Modi, negara itu mengalami pelemahan bagi permintaan batu bara. Studi ini menemukan bahwa pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2020, pengiriman batu bara turun sekitar dua persen.

Angka pengurangan ini kecil, tapi signifikan ketika ditetapkan melawan tren atau peningkatan pembangkit listrik termal sebesar 7,5 persen per tahun dari dekade sebelumnya. Konsumsi minyak India pun menunjukkan pengurangan pertumbuhan permintaan yang serupa. Konsumsi minyak sudah melambat sejak awal 2019. Konsumsi minyak turun 18 persen YoY di Maret 2020.

Tren tersebut diperparah oleh dampak dari tindakan karantina wilayah dari Covid-19 pada industri transportasi. Sementara itu, pasokan energi dari energi terbarukan telah meningkat sepanjang tahun dan telah bertahan sejak pandemi melanda daripada batu bara.

Menurut angka yang diterbitkan oleh Badan Energi Internasional (IEA) pada akhir April, penggunaan batu bara dunia turun delapan persen pada kuartal pertama tahun ini. Sebaliknya, tenaga angin dan matahari melihat sedikit peningkatan dalam permintaan internasional.

Alasan utamanya bahwa batu bara telah menerima beban terbesar dari penurunan permintaan listrik. Hal itu disinyalir bahwa biayanya lebih mahal untuk dijalankan setiap hari.

Semisal individu memasang panel surya atau turbin angin, biaya pengoperasian sangat rendah dan, karenanya, cenderung mendapat prioritas pada jaringan listrik. Pembangkit listrik termal (yang didukung oleh batu bara, gas, atau minyak) sebaliknya, mengharuskan individu membeli bahan bakar untuk menghasilkan daya.

Kendati demikian, para analis memperingatkan bahwa penurunan penggunaan bahan bakar fosil diprediksi tidak berlangsung lama. Mereka mengatakan ketika pandemi mereda, ada risiko bahwa emisi akan melonjak lagi ketika negara-negara berusaha untuk memulai ekonomi mereka.

AS sudah mulai melonggarkan peraturan lingkungan dan kekhawatirannya adalah negara lain akan mengikuti. Analisis dari Carbon Brief juga menunjukkan alasan untuk berpikir India dapat melawan tren ini.

Krisis Covid-19 telah membawa masalah keuangan yang lama muncul di sektor batu bara India ke puncaknya. Pemerintah India pun sedang menyelesaikan paket bantuan yang dapat mencapai 900 miliar rupee (12 miliar dolar AS).

Pada saat yang sama, pemerintah India tengah mendiskusikan tentang dukungan bagi energi terbarukan sebagai bagian dari pemulihan. Energi terbarukan memiliki keunggulan ekonomi di India.

Hal itu menawarkan listrik yang jauh lebih murah daripada batu bara. Laporan mengklaim bahwa kapasitas tenaga surya baru dapat berharga 2,55 rupee per kilowatt per jam, sementara biaya rata-rata untuk listrik yang dihasilkan dari batu bara adalah 3,38 rupee per jam.
 
Berinvestasi dalam energi terbarukan juga konsisten dengan Program Udara Bersih Nasional pemerintah Modi yang diluncurkan pada 2019. Pemerhati lingkungan berharap udara bersih dan langit cerah yang dinikmati warga India sejak lockdown akan meningkatkan tekanan publik pada pemerintah untuk membersihkan sektor listrik dan meningkatkan kualitas udara.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA