Selasa 12 May 2020 11:36 WIB

Saudi Pangkas Produksi Minyak, Ada Apa?

Pemangkasan produksi sebagai upaya mengembalikan harga minyak yang kian jatuh.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Fuji Pratiwi
Seorang pria naik unta melintasi ladang minyak dikawasan Sakhir, Bahrain. Negara OPEC telah sepakat bahwa mereka harus mengurangi produksi untuk membantu meningkatkan harga minyak dunia selama pertemuan di Aljazair.
Foto: AP
Seorang pria naik unta melintasi ladang minyak dikawasan Sakhir, Bahrain. Negara OPEC telah sepakat bahwa mereka harus mengurangi produksi untuk membantu meningkatkan harga minyak dunia selama pertemuan di Aljazair.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Kementerian Energi Kerajaan Arab Saudi meminta perusahaan minyak pelat merah miliknya, Saudi Aramco untuk memangkas produksi sekitar sejuta barrel per hari. Pemangkasan sukarela rencananya dimulai pada Juni nanti sebagai upaya mengembalikan harga minyak yang kian jatuh.

Dilansir dari Saudi Gazette pada Selasa (12/5), langkah pemangkasan merupakan bagian dari kesepakatan antara Saudi dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada 12 April lalu. Dengan pemangkasan, produksi minyak mentah Saudi akan berada di angka 7.492 juta barrel per hari pada Juni nanti.

Baca Juga

"Kementerian Energi juga mengarahkan Aramco agar mengurangi produksi dari kapasitas 8.492 barrel per hari," tulis keterangan resmi Kementerian Energi Kerjaan Arab Saudi.

Saudi menargetkan agar negara-negara OPEC+ dan negara produsen minyak lain bisa melakukan pemangkasan serupa sesuai komitmen yang disepakati. Tujuannya demi menjaga stabilitas pasar minyak dunia. Pengurangan produksi diharapkan memperbaiki harga minyak setelah turun dalam beberapa bulan ini.

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan memutuskan pemangkasan produksi minyak sebanyak 100 ribu barrel per hari mulai Juni. Langkah UEA sebagai dukungan pada Saudi selaku negara tetangga.

"Meski UEA sukses memproduksi minyak 4 juta barrel per hari, penting untuk menguranginya sesuai kesepakatan OPEC+. Ini demi mengembalikan stabilitas pasar energi," ujar Menteri Energi dan Industri UEA Suhail Bin Mohammed Faraj Faris Al Mazrouei.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement