Jatim Khataman Alquran 2.020 Kali, Khofifah: Doa Keselamatan

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

 Ahad 10 May 2020 21:00 WIB

Khataman Alquran Jatim untuk mendoakan wabah Covid-19 segera selesai. Membaca Alquran (ilustrasi) Foto: Muhammad Rizki Triyana (Republika TV) Khataman Alquran Jatim untuk mendoakan wabah Covid-19 segera selesai. Membaca Alquran (ilustrasi)

Khataman Alquran Jatim untuk mendoakan wabah Covid-19 segera selesai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berharap berkahnya Alquran bisa memberikan kekuatan, kesehatan, dan keselamatan bagi semua warga Jatim dan Indonesia. 

Terutama dari keadaan pandemi wabah virus Covid-19 yang tengah melanda berbagai wilayah Indonesia. "Mudah-mudahan Covid-19 segera diangkat Allah  SWTdari Bumi Indonesia khususnya Jawa Timur. Masyarakat diberikan kesabaran, ketabahan, dan kekuatan. Mereka yang terdampak baik sosial ekonomi, akan mendapatkan limpahan rezeki yang luas dan berkah dari Allah SWT," kata dia dalam keterangan pers yang diterima Republika.co.id, Ahad (10/5).

Hal itu disampaikan Khofifah dalam Peringatan Nuzulul Quran yang digelar khusyuk di tengah pandemi Covid-19 di Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jatim menggelar Nuzulul Quran secara daring dengan melakukan khataman Alquran sebanyak 2.020 kali di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (9/5) malam.

Baca Juga

Khofifah mengatakan, Khotmil Quran Kubro pada malam ke-17 Ramadhan sengaja digelar dengan harapan agar Allah menurunkan keberkahan di bumi Jawa Timur dan Indonesia saat pandemi Covid-19. 

Dia bersyukur Allah SWT memberikan kenikmatan yang luar biasa karena diizinkan berkhidmat memperingati Nuzulul Quran.

"Hari ini kita berada di malam 17 Ramadhan dalam suasana pandemi Covid-19. Kita mengikhtiarkan bersama bupati/walikota, Forkopimda ingin memperingati Nuzulul Qur'an. 17 bupati/walikota telah berkenan membacakan juz 30 dimulai dari surat An-Naba," ujar mantan menteri sosial itu.

Khofifah melanjutkan, Khotmil Qur'an Kubro merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk mencoba membaca, memahami dan memaksimalkan apa yang menjadi ajaran Alquran. 

Khataman Alquran sebanyak 2020 kali ini dilakukan 4.000 hafiz-hafizah yang membacakan 15 juz masing-masing dalam dua hari secara mandiri dari rumah masing-masing. "Sehingga didapatkan sebanyak 2.000 khatam. Jadi insya Allah ada 2.020 kali khatam Alquran. Semua kita ikhtiari, kita munajat kepada Allah SWT," ujarnya.

Khofifah juga ingin terus memuliakan hafiz-hafizah. Karena itu, dia bersama Emil Dardak selaku Wagub Jatim mengalokasikan tunjangan kehormatan untuk hafiz-hafizah dalam APBD Jatim. Tahun ini ada sebanyak 4.000 hafiz-hafizah yang diberikan tunjangan kehormatan.

Khotmil Qur'an Kubro tersebut digelar secara daring dengan penceramah utama yaitu Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. Acara ini disiarkan langsung melalui siaran televisi, radio dan juga streaming melalui media sosial resmi Pemprov Jatim.  

Selain hafiz-hafizah, 17 bupati/walikota ikut membaca Alquran juz 30 secara bergantian. Pembacaan juz 30 Khotmil Qur'an Kubro daring 2.020 dibaca tartil bergantian secara berurutan dengan menggunakan aplikasi zoom oleh Bupati Banyuwangi, Bupati Jombang, Bupati Bangkalan, Bupati Bondowoso, Bupati Bojonegoro, Bupati Pasuruan, Walikota Malang, Plt. Bupati Sidoarjo, Bupati Trenggalek, Bupati Madiun, Walikota Kediri, Bupati Lumajang, dan Bupati Pamekasan.

Sementara itu, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr KH Nasaruddin Umar, mengapresiasi langkah yang dilakukan Gubernur Khofifah yang menyelenggarakan peringatan Nuzulul Quran daring.  

Menurut dia, ini kali pertama peringatan Nuzulul Quran yang ada di Indonesia bahkan di dunia. Dalam ceramahnya, Nasaruddin menyampaikan, di momen Nuzulul Quran ini, yang penting untuk direnungi adalah ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu iqra’ yang artinya bacalah. 

Dia mengungkapkan, tidak ada kitab suci lain yang ayat pertamanya diawali dengan fi'il amr atau kalimat perintah. "Artinya ada pesan besar dari kata iqra' yang disampaikan kepada seorang nabi yang kondisinya saat itu buta huruf dan tidak bisa membaca. Bahkan sampai diulang sebanyak tiga kali," katanya.

Nasaruddin menjelaskan, setiap pengulangan kata iqra’ memiliki makna tersendiri berdasarkan telaah ulama tafsir. Bahkan tiga kali pengulangan tersebut memiliki level penajaman dari pembacaan Alquran. Makna iqra’ yang pertama yakni mengajak melakukan kesadaran sensorial atau tadabur.

Kedua, kata iqra' yang kedua adalah mengajak manusia untuk memiliki kesadaran intelektual. Kalau membaca Alquran, hanya bisa membaca, dan belum tahu maknanya, maka itu baru level pertama. Tetapi jika mengetahui keindahan Alquran dan ada manfaat yang didapatkan dari Alquran ini, maka ada di level kedua.

Makna iqra’ ketiga adalah mengajak agar memiliki kesadaran emosional. Jika sudah ada di level ini, maka pembaca Alquran itu punya emosional dan cinta yang mendalam pada Alquran. 

"Keempat, Alquran mengajak manusia memiliki kesadaran spiritual, yang akan menghubungkan antara yang membaca Alquran dengan kalam Tuhannya yaitu Allah SWT," paparnya.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X