Ahad 10 May 2020 14:43 WIB

Kisah Ayah Rasulullah Lolos dari Persembahan

Tak disangka, nama Abdullah keluar sebagai persembahan

 Beberapa abad, sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, banyak dinasti yang eksis di jazirah Arab.
Foto: Blog.silive.com
Beberapa abad, sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, banyak dinasti yang eksis di jazirah Arab.

REPUBLIKA.CO.ID, Abdullah bin Abdul Muthalib digambarkan sebagai pemuda berwajah tampan dan menarik. Kisah Abdullah ketika hendak dijadikan persembahan membuat wanita-wanita Makkah tambah penasaran.

Muhammad Husain Haikal dalam Sejarah Hidup Muhammad menjelaskan, Abdul Mutthalib sangat berkeinginan untuk memiliki anak lelaki yang banyak. Dia butuh tenaga untuk mengurus air bagi para tamu yang hendak berziarah ke Ka'bah. Sampaisampai, ia bernazar jika memperoleh sepuluh anak lelaki kemudian tidak memperoleh anak lagi sesudah mereka besar, salah satu di antaranya akan disembelih untuk dijadikan persembahan.

Apa yang menjadi keinginan Abdul Muthalib dikabulkan. Dia memperoleh sepuluh anak dan setelah itu tak punya anak lagi. Dia memanggil semua anak lelakinya demi meluluskan nazarnya. Setiap anak lelaki menuliskan namanya di atas qid-h (anak panah). Semua anak panah diambil oleh Abdul Muthalib dan dibawa kepada juru qid-h di tempat berhala Hubal yang berdiri di tengah Ka'bah.

Juru qid-h kemudian mengocok anak panah itu. Nama yang keluar akan disembelih untuk dijadikan persembahan bagi Hubal. Tak disangka, nama Abdullah keluar. Dia lantas membawa anak muda itu untuk disembelih di dekat sumur Zamzam. Namun, orang Quraisy ketika itu serentak melarangnya untuk berbuat demikian. Dia diminta memohon ampun atas nazarnya itu.

Abdul Muthalib yang masih ragu kemudian mendapatkan nasihat dari seorang lelaki suku Makhzum. Dia mengungkapkan, jika penebusan bisa dilakukan dengan harta maka bisa ditebuslah. Lantas, mereka pun hendak mengganti dengan sepuluh ekor unta. Mereka kembali mengundi. Hing ga lemparan ke sepuluh, nama yang ke luar masih saja Abdullah. Sesuai dengan aturan maka jumlah unta harus ditambah ke lipatannya. Abdul Muthalib harus menambah unta hingga seratus ekor.

Sampai lemparan berikutnya, keluarlah nama unta sebagai undian. Abdul Muthalib yang kurang yakin melemparnya hingga tiga kali. Nama unta kembali keluar. Selamatlah Abdullah dari persembahan. Abdul lah pun kembali dalam aktivitasnya sedia kala. Membantu ayahnya dalam menyam but tamu dan mengelola sumur Zamzam di Makkah.

Sampai pada saatnya, pemuda Abdullah yang sudah mencapai usia 24 tahun dinikahkan dengan Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhra — pemimpin su ku Zuhra ketika itu. Pergilah Abdul Muthalib dan Abdullah untuk menemui Wahab dan melamar putrinya. Pernikahan bersejarah itu pun terjadi. Di samping itu, Abdul Muthalib juga melamar Hala, putri pamannya yang akan melahirkan Hamzah — paman Nabi SAW.

Abdullah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah. Sesudah itu, mereka pindah ke keluarga Abdul Muthalib. Tidak berapa lama, Abdullah kemudian pergi untuk urusan dagang ke Suriah. Dia meninggal kan istrinya yang tengah mengandung bayi suci.

Selain ke Suriah, Abdullah juga pergi ke Gaza dan kembali lagi. Dia lalu singgah di tempat saudara-saudara ibunya di Madinah untuk sekadar beristirahat. Ketika hen dak pulang ke Makkah, Abdullah menderita sakit. Berita itu pun sampai ke Abdul Muthalib. Ia mengutus Harits, anaknya yang sulung, untuk ke Madinah dan membawa pulang Abdullah. Sesampainya di Madinah, Harits diberi tahu jika Abdullah sudah wafat dan dikuburkan setelah kafilah berangkat ke Makkah.

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement