Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Benarkah Rokok Melindungi dari Covid-19?, Jawaban WHO

Ahad 10 May 2020 13:49 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nur Aini

Berhenti merokok (ilustrasi)

Berhenti merokok (ilustrasi)

Foto: Boldsky
Perokok yang terinfeksi Covid-19 berisiko lebih tinggi parah dan kematian.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa merokok tidak melindungi orang dari virus corona (Covid-19). Sebaliknya, perokok yang terinfeksi Covid-19 memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit parah dan kematian.

WHO menyatakan hal itu pada Jumat (8/5) lalu menanggapi pertanyaan bahwa beberapa ilmuwan telah menemukan jika perokok kecil kemungkinan dirawat di rumah sakit dengan Covid-19. Ahli epidemiologi yang juga pemimpin teknis pada tanggapan Covid-19 di Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr. Maria Van Kerkhove, mengatakan pada sebuah konferensi pers bahwa pernyataan itu sama sekali tidak benar.

Baca Juga

Ia mengatakan, ada beberapa laporan media tentang studi yang belum ditelaah (peer-review) yang melihat prevalensi merokok di antara orang-orang yang dirawat di rumah sakit dengan kasus Covid-19. Menurutnya, penelitian itu tidak dirancang untuk mengevaluasi apakah merokok itu melindungi atau tidak dalam bentuk atau format apapun.

"Dan mereka tidak mengatakan bahwa merokok itu protektif. Bahaya tembakau sudah dikenal luas dan kita tahu bahwa jutaan orang meninggal setiap tahun akibat penggunaan tembakau. Covid-19 adalah penyakit pernapasan dan merokok menyebabkan kerusakan pada paru-paru," kata Van Kerkhove, dilansir di Xinhuanet, Ahad (10/5).

Ia mengemukakan bahwa sejumlah penelitian telah menemukan bahwa merokok justru mengarah pada pengembangan penyakit yang parah. Selain itu, kata dia, merokok menempatkan orang pada risiko lebih tinggi memakai ventilator, dirawat di perawatan intensif, dan akhirnya meninggal.

"Kami tahu bahaya merokok dan kami tahu bahwa perokok, jika mereka terinfeksi Covid-19, memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit parah dan kematian," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA