Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Obat Malaria tidak Tunjukkan Manfaat untuk Kasus Corona

Jumat 08 May 2020 17:25 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Pil hidroksiklorokuin yang dikenal sebagai obat antimalaria banyak digunakan sebagai pengobatan Covid-19.

Pil hidroksiklorokuin yang dikenal sebagai obat antimalaria banyak digunakan sebagai pengobatan Covid-19.

Foto: EPA
Studi terbaru di AS memperlihatkan tak ada manfaat obat malaria untuk kasus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Studi terbaru tidak menemukan adanya manfaat dari obat malaria untuk penanganan kasus Covid-19. Hidroksiklorokuin, obat yang digunakan untuk mencegah dan menangani malaria, tidak menurunkan risiko kematian atau penggunaan alat bantu pernapasan.

Riset tersebut melibatkan hampir 1.400 pasien yang dirawat di Columbia University di New York, Amerika Serikat (AS). Meski bersifat observasional dan bukan eksperimen langsung, banyak dokter dan editor jurnal menganggapnya sebagai temuan berharga.

Pasalnya, tenaga medis tidak perlu lagi memberikan obat tersebut kepada ratusan ribu pasien Covid-19 lain tanpa bukti yang jelas terkait risiko dan manfaat obat. Hasil studi telah diterbitkan di New England Journal of Medicine.

Presiden AS Donald Trump berulang kali mendesak penggunaan hidroksiklorokuin, yang juga dapat menangani lupus dan rheumatoid arthritis. Padahal, obat berpotensi memiliki efek samping serius, termasuk mengubah detak jantung yang bisa memicu kematian mendadak.

Dalam studi, para dokter memberikan obat kepada 811 pasien. Sebagian hanya mendapat hidroksiklorokuin, sebagian lagi dengan tambahan antibiotik azitromisin. Sementara, ada 565 pasien yang tidak diberikan penanganan hidroksiklorokuin.

Pemberian obat dimulai dalam waktu dua hari sejak pasien dirawat. Secara keseluruhan, 180 pasien memerlukan alat bantu pernapasan dan 232 meninggal dunia. Penggunaan obat tidak memengaruhi dua kemungkinan tersebut secara signifikan.

Beberapa kritik dari studi sebelumnya mengatakan pengobatan mungkin sudah terlambat untuk dilakukan. Studi didanai oleh National Institutes of Health, yang telah menggagas uji coba perbandingan hidroksiklorokuin dengan plasebo, dikutip dari AP.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA