Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Mentan Sebut 5,6 Juta Hektare Sawah Siap Ditanami

Rabu 06 May 2020 01:53 WIB

Red: Ani Nursalikah

Mentan Sebut 5,6 Juta Hektare Sawah Siap Ditanami. Sejumlah petani beraktivitas menanam padi pada lahan pertanian di wilayah Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan kerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam pembukaan lahan pertanian atau cetak sawah seluas 600.000 hektare yang terdiri dari 400.000 hektare lahan gambut dan 200.000 hektare lahan kering sebagai antisipasi terjadinya kekeringan dan ancaman kelangkaan pangan, seperti yang diperingatkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

Mentan Sebut 5,6 Juta Hektare Sawah Siap Ditanami. Sejumlah petani beraktivitas menanam padi pada lahan pertanian di wilayah Sawit, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (5/5/2020). Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan kerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam pembukaan lahan pertanian atau cetak sawah seluas 600.000 hektare yang terdiri dari 400.000 hektare lahan gambut dan 200.000 hektare lahan kering sebagai antisipasi terjadinya kekeringan dan ancaman kelangkaan pangan, seperti yang diperingatkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

Foto: ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho
Mentan akan percepat musim tanam kedua dengan target 5,6 juta hektare sawah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo akan melakukan percepatan musim tanam kedua dengan target luas tanam padi 5,6 juta hektare sesuai instruksi Presiden Joko Widodo. Berdasarkan prakiraan cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus.

Curah hujan diperkirakan masih berlangsung hingga Juni. "Menurut ramalan BMKG, Mei sampai Juni akan hujan, kita percepat tanam, segera masuk kembali ke lahan pertanian, segera jajaran (Kementerian) Pertanian bagikan bibit, pupuk dan mempersiapkan alsintan," kata Syahrul dalam diskusi virtual di Jakarta, Selasa (5/5).

Baca Juga

Syahrul menargetkan lahan seluas 5,6 juta hektare siap ditanami dengan perkiraan produksi gabah lima hingga enam ton per hektare sehingga bisa mendapatkan 20 juta ton gabah kering hiling. Sebelumnya, panen raya telah berlangsung sejak April dan akan berakhir pada Juni 2020 di beberapa daerah dengan total luas lahan sekitar 7,46 juta hektare.

Presiden Jokowi memerintahkan jajarannya menyiapkan skenario dalam mengantisipasi perkiraan yang menyebutkan 30 persen wilayah zona musim akan mengalami kemarau lebih kering tahun ini. Jokowi menekankan pentingnya kebijakan mitigasi agar peningkatan intensitas musim kemarau di tahun ini, tidak mengganggu ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok.

"Karena berdasarkan prediksi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), 30 persen wilayah-wilayah yang masuk zona musim, tiga bulan ke depan akan mengalami kemarau yang lebih kering lebih dari biasanya," kata Jokowi dalam rapat terbatas mengenai "Antisipasi Dampak Kekeringan Terhadap Ketersediaan Bahan Pangan Pokok".

Dia juga mengingatkan mengenai potensi terjadinya krisis pangan global yang sempat diperingatkan oleh Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan juga krisis pangan, Jokowi menekankan tiga hal yakni, jaminan ketersediaan air di daerah sentra produksi pertanian.

Ia meminta ketersediaan air disiapkan dengan membuat sarana dan prasarana penyimpanan, di antaranya dengan memenuhi danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan. Kedua, ia meminta untuk dilakukan percepatan musim tanam. Jokowi menekankan  jajaran menteri, pimpinan lembaga serta pemerintah daerah memanfaatkan curah hujan yang masih ada saat ini untuk mendorong percepatan musim tanam.

Petani harus dipastikan tetap mampu berproduksi, termasuk dengan mengedepankan protokol kesehatan agar terhindar dari penularan virus corona baru atau Covid-19. Ketiga adalah mengenai manajemen pengelolaan stok untuk kebutuhan pokok, untuk bahan-bahan pokok, hitung-hitungannya detail. Bulog tetap harus membeli gabah dari petani sehingga harga di petani menjadi lebih baik.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA