Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

Friday, 6 Rabiul Awwal 1442 / 23 October 2020

BPS: Emas Sumbang Inflasi, Transportasi Udara Alami Deflasi 

Senin 04 May 2020 12:28 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Pemilik toko emas menata perhiasan emas miliknya di Pusat Toko Emas Cikini, Jakarta, Kamis (5/3). BPS mengungkapkan komoditas yang dominan memberikan inflasi ke kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya adalah kenaikan harga emas dan perhiasan di banyak daerah.

Pemilik toko emas menata perhiasan emas miliknya di Pusat Toko Emas Cikini, Jakarta, Kamis (5/3). BPS mengungkapkan komoditas yang dominan memberikan inflasi ke kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya adalah kenaikan harga emas dan perhiasan di banyak daerah.

Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Komoditas yang memberi andil pada inflasi ialah gula dan bawang merah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi tertinggi pada bulan lalu. Tingkat inflasinya mencapai 1,20 persen dengan andil hingga 0,07 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, komoditas yang dominan memberikan inflasi ke kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya adalah kenaikan harga emas dan perhiasan di banyak daerah. "Andil inflasi ke kelompok ini adalah 0,06 persen," ujarnya ketika konferensi pers secara virtual, Senin (4/5).

Suhiaryanto menyebutkan, kenaikan harga emas terjadi di 87 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dipantau oleh BPS. Salah satu daerah yang signifikan adalah di Semarang dengan kenaikan hingga 16 persen.

Baca Juga

Secara umum, Suhariyanto mengatakan, besaran inflasi pada April sebesar 0,08 persen dengan inflasi tahunan 2,67 persen. Dari 11 kelompok pengeluaran, delapan di antaranya mengalami inflasi, dua deflasi dan satu lainnya stabil.

Selain perawatan pribadi dan jasa lainnya, kelompok lain yang mengalami inflasi adalah makanan, minuman dan tembakau. Besaran inflasinya adalah 0,09 persen dengan andil kepada inflasi April 0,02 persen.

Beberapa komoditas yang memberikan andil ke inflasi karena kenaikan harga yaitu bawang merah sebesar 0,08 persen. Gula pasir turut menyumbang 0,02 persen. Sejumlah barang seperti minyak goreng, rokok filter, rokok putih dan beras masing-masing berkontribusi 0,01 persen.

Di sisi lain, terdapat komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga memberikan andil kepada deflasi. Misalnya, cabai merah dengan andil 0,08 persen dan daging ayam ras menyumbang ke deflasi 0,05 persen.

"Komoditas bawang putih pun mengalami penurunan harga sehingga menyumbang delfasi 0,02 persen," tutur Suhariyanto.

Sementara itu, kelompok transportasi menyumbang deflasi terbesar. Suhariyanto menjelaskan, satu-satunya komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi pada kelompok ini adalah tarif angkutan udara, yakni hingga 0,05 persen.

Suhariyanto mengatakan, kondisi tersebut terjadi seiring dengan adanya isu larangan mudik yang sudah bergaung sejak bulan lalu dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). "Penurunan tertinggi di Manado 24 persen, Lhokseumawe turun 20 persen," katanya.

Biaya pulsa ponsel juga menyumbang deflasi sebesar 0,02 persen kepada kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan yang deflasi hingga 0,34 persen pada bulan lalu. Suhariyanto menjelaskan, apabila dilihat lebih rinci, di sana terjadi penurunan untuk tarif panggilan dari beberapa provider besar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA