Senin 04 May 2020 05:02 WIB

Terlewat Bershalawat Semalam, Sultan Abdul Hamid Menyesal

Sibuk bekerja hingga tertidur di atas meja, Sultan terlupa membaca shalawat.

Sultan Abdul Hamid II (kanan) berbincang bersama Tahsin Pasha di ruang tempatnya membuat kerajinan kayu, yang menjadi kegemarannya.
Foto: @payitaht
Sultan Abdul Hamid II (kanan) berbincang bersama Tahsin Pasha di ruang tempatnya membuat kerajinan kayu, yang menjadi kegemarannya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Erik Purnama Putra

Setiap Jumat, Sultan Abdul Hamid II (berkuasa pada 31 Agustus 1876–27 April 1909) selalu menerima surat laporan atau keluhan yang terjadi di masyarakat. Tahsin Pasha, selaku orang paling dipercaya Sultan pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah atau Ottoman Empire, bertugas membacakan setiap surat yang masuk ke Istana Yildiz di Konstantinopel atau Istanbul.

"Hunkarim, keinginan yang disampaikan rakyat kita saat salam Jumat," ucap Tahsin sambil membuka beberapa lembaran surat.

"Bacakan," kata Sultan Abdul Hamid di ruang kerjanya.

Setelah membacakan beberapa aduan masyarakat, Tahsin geleng-geleng dan melewati surat yang dipegangnya tersebut.

"Mengapa kau tidak membaca itu, Pasha?" ucap Sultan penasaran.

"Saya malu, Sultanku," ucap Tahsin.

"Mengapa?" kata Sultan.

"Hunkarim, seseorang berkata bahwa Anda memiliki utang kepadanya. Kami memanggilnya ke Istana, kami memberinya uang, tapi dia tak mau pergi," ujar Tahsin seolah ingin mengabaikan surat tersebut.

"Di mana dia?" ucap Sultan.

"Di sini (sudah di dalam Istana) Sultanku," ujar Tahsin.

"Bawa dia masuk," kata Ulu Hakan, panggilan lain Sultan.

"Baiklah," kata Tahsin sembari meminta penjaga Istana untuk memanggil Veysel (Faisal) Efendi masuk. Faisal pun masuk ke ruang kerja Sultan.

"Silakan, Efendi, katakan masalahmu," kata Sultan meminta penjelasan.

Dengan nada ragu, ia pun langsung ke inti persoalan. "Sultanku, Anda berutang kepadaku," kata Faisal.

Tahsin dan Sultan yang menunjukkan gestur tidak percaya kemudian merespon. "Dari mana saya berutang padamu, Nak?" kata Sultan meminta karifikasi.

Faisal pun menjelaskan, kalau ia merupakan seorang pedagang, kemudian bangkrut. "Aku terlilit banyak utang. Setiap malam, aku berdoa kepada Allah, Effendiku."

Tahsin pun memotong pembicaraan Faisal. "Anakku, Sultan kita bertanya darimana dia berutang kepadamu?"

Faisal kembali menegaskan, "Seperti yang kukatakan. Setiap malam aku berdoa kepada Allah. Tadi malam, dalam mimpi, aku bertemu Nabi kita (Muhammad) Shallallahu Alaihi Wasallam."

Sultan menjawab, "Shallallahu Alaihi Wasallam," sambil tangan kanannya memegang dada. Dan Tahsin pun mengikuti perkataan Sultan.

Faisal menerangkan, dalam mimpi bertemu Rasulullah tersebut, ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada Sultan. "Beliau berkata kepadaku; 'Beritahu Hamid kita, shalawat dan zikir yang dia baca setiap malam, kemarin malam lupa dia baca. Pergi dan minta apa yang kau butuhkan darinya'," kata Faisal sambil mendekapkan kedua tangannya di depan.

Sultan yang sedari awal duduk, langsung memegang tongkatnya dan berdiri. Dia seolah tidak percaya dengan kekhilafannya pada malam sebelumnya, dan kemudian menatap wajah Faisal.

Tahsin pun ikut terlihat gundah.

Sultan merespon, "Apa yang beliau (Rasulullah) katakan?"

Faisal menjawab, "Hamid kita..."

Belum sempat Faisal meneruskan pesan dalam mimpinya, Sultan mengangkat tangan kanan sambil mengembangkan lima jari tanda meminta pesan dari Rasulullah dihentikan.

"Ambil ini, Nak," kata Sultan sambil menyerahkan sekantung koin emas yang diambil dari laci meja kerjanya kepada Faisal.

Faisal pun langsung maju untuk mengambil uang yang diberikan Sultan.

"Beritahu aku lagi apa yang beliau katakan?" ujar Sultan.

"Hamid kita..." kata Faisal yang tidak dapat meneruskan pesan dalam mimpinya lantaran kembali dihentikan Sultan.

Sultan pun mengamil kantong berisi koin emas untuk diberikan kepada Faisal.

Sultan pun mengulang pertanyaannya empat kali kepada Faisal. Dan setiap Faisal ingin menjawab, selalu dihentikan Sultan.

Hingga ketika sudah menerima empat kantong koin emas, Tahsin pun mengingatkan Faisal. "Anakku, apakah yang kau ambil belum cukup?"

Faisal dengan wajah gembira menjawab, "Cukup, Pasha. Aku akan membayar utangku secepatnya."

Sultan mengucapkan perpisahan dengannya. "Semoga keselamatan bersamamu."

Faisal pun meninggalkan ruangan.

Tahsin yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya berkomentar. "Hunkarim. Dia hampir mengambil segala (uang) yang kau miliki."

Sultan pun mengingatkan Tahsin agar tidak berkomentar seperti itu. "Bicara apa kau, Pasha?"

Sultan melanjutkan, "Wallahi billahi jika dia menginginkan seluruh kekayaanku dan tahtaku, aku akan berikan kepadanya (kalau pesan dalam mimpi Faisal, Rasulullah meminta begitu)."

Tahsin pun menitikkan air mata mendapat jawaban yang disampaikan Sultan.

"Tadi malam aku bekerja, Pasha. Aku tertidur di atas mejaku. Aku lupa membaca shalawat. Aku berbuat kesalahan, Pasha. Semoga Allah mengampuniku," ucap Sultan menjelaskan mengapa ia sampai terlupa bershalawat, yang merupakan kebiasaannya yang tak pernah ditinggalkan setiap hari.

Mendapat jawaban seperti itu, Tahsin semakin tidak bisa membendung air matanya.

Sultan pun menundukkan kepalanya, sekali lagi menunjukkan penyesalan luar biasa lantaran lupa bershalawat semalam.

Itulah salah satu cuplikan serial Payitaht: Abdülhamid episode ke-56 atau kedua di sesi ketiga yang ditayangkan di stasiun nasional Turki, TRT. Film yang diangkat berdasarkan ceritanya nyata yang bersumber dari catatan harian Sultan ke-34 Ottoman Empire ini, sudah memasuki sesi keempat atau episode ke-116 secara keseluruhan. Film yang mulai syuting pada 2017-2020 ini juga melibatkan keturunan Sultan Abdul Hamid, yaitu Orhan Osmanuglu.

Dalam episode ke-56 pula, baron keuangan Eropa, Edmond Rothshild berkumpul dan bersepakat di Mesir, untuk menggulingkan Sultan Abdul Hamid. Dia memiliki rencana untuk membagi kekuasaan Kekhalifahan Utsmaniyah yang membentang di Balkan sampai Hijaz, untuk diserahkan kepada negara-negara Eropa.

Di bawah kepemimpinan Rothschild, para raja uang dunia berkumpul dan bersepakat untuk memulai perang terbuka kepada Sultan Abdul Hamid. Di situ pula, Sultan sempat menyinggung kurs mata uang satu Lira Utsmani setara dengan satu poundsterling, dan nilainya empat dolar AS. AS disebut sebagai negara besar baru yang berkembang di luar Eropa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement