Sabtu 02 May 2020 18:09 WIB

Pengamat: Lima Faktor Membuat Jabar Unggul Tangani Covid-19

Lima hal itu di antaranya Emil melakukan langkah cepat dan memiliki sense of crisis.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Ratna Puspita
Petugas medis mengambil sampel saat Rapid Test di Pasar Bogor, Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/4/2020). PD Pasar Pakuan Jaya bersama Dinkes Kota Bogor melakukan Rapid Test sebanyak 300 sampel untuk pegawai dan pedagang pasar sebagai upaya antisipasi penyebaran virus Corona (COVID-19) di pasar tradisional Kota Bogor
Foto: ARIF FIRMANSYAH/ANTARA
Petugas medis mengambil sampel saat Rapid Test di Pasar Bogor, Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/4/2020). PD Pasar Pakuan Jaya bersama Dinkes Kota Bogor melakukan Rapid Test sebanyak 300 sampel untuk pegawai dan pedagang pasar sebagai upaya antisipasi penyebaran virus Corona (COVID-19) di pasar tradisional Kota Bogor

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Persepsi publik terkait penanganan wabah Covid-19 dalam riset yang dilakukan Repro Indonesia mendudukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat paling responsif dibandingkan DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pengamat Politik dari Universitas Padjajaran (Unpad) Muradi menilai setidaknya ada lima faktor yang membuat Pemprov Jabar unggul. 

Ia mengatakan tidak hanya unggul dalam hal penanganan Covid-19, melainkan juga dampak sosial ekonominya dibanding provinsi lain. Muradi mengatakan kecepatan menjadi faktor pertama yang membuat Jabar unggul.

Baca Juga

 "Tentu Jabar gak bisa berdiam diri lamban mengantisipasi karena pusat pandemik ini kan di Jakarta, mau tidak mau harus lebih responsif secara geografis," ujar Muradi, Sabtu (2/5).

Muradi mengatakan, langkah-langkah responsif itu penting untuk bisa melokalisir penyebaran Corona. Kecepatan itu juga datang dari manajemen kepemimpinan Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam penanganan Covid-19. 

Kedua, Muradi menilai Ridwan Kamil memiliki sense of crisis lebih unggul dibanding kepala daerah lain. Hal itu, ia menambahkan, terlepas dari tudingan sebagian pihak tengah mengambil momentum. 

“Misalnya pengambilan (usulan) PSBB provinsi Jabar berani melakukan, itu bukan semata-mata ikut-ikutan, tapi juga intuisi pemimpin,” katanya.

Ketiga, kata dia, ia menilai Gubernur Ridwan Kamil memilki kemampuan melihat celah memberikan stimulasi terkait dampak sosial ekonomi Covid-19. “Persoalan orang miskin baru, terdampak. Butuh kemampuan intuisi efektif,” kata Muradi.

Keempat, kata dia, momentum Covid-19 membuat pola komunikasi antara gubernur dan bupati/wali kota membaik dibandingkan awal-awal Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil menjabat sebagai gubernur. Kini, Emil dinilai mampu memposisikan diri sebagai wakil pemerintah pusat yang bertugas mengkoordinir kesiapan daerah menangani pandemi.

“Terakhir, bagaimana Ridwan Kamil mengakselerasi. Ini yang saya kira kemudian orang menunggu. Akselerasi penting misalnya keberanian gubernur mengusulkan PSBB provinsi, walaupun tidak banyak penyebaran di Jabar, tapi langkah akselerasi ini sangat tepat,” paparnya.

Muradi menilai momentum penanganan Covid-19 menjadi ajang Emil menantang kemampuan kepemimpinannya dengan melakukan sejumlah tindak lanjut serta kebijakan yang terstruktur dan sistematis. 

Repro Indonesia dalam rilis surveinya mencatat masyarakat di keempat provinsi mengaku mudah mengakses info perkembangan kasus Covid-19. Jabar dengan persentase sebesar 43 persen dan DKI Jakarta 39 persen. Sementara Jateng 35 persen dan Jatim 31 persen. 

Dari keempat provinsi, Provinsi Jawa Barat dianggap paling cepat oleh masyarakatnya dalam menangani wabah Covid-19 dibandingkan tiga provinsi lainnya dengan persentase mencapai 38 persen. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement