Sabtu 02 May 2020 11:38 WIB

Brasil Kekurangan Peti dan Lahan Pemakaman Akibat Pandemi

Kematian akibat pandemi corona di Brasil meningkat.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Dwi Murdaningsih
Pria tunawisma makan makanan yang diberikan oleh sukarelawan selama lockdown untuk menahan penyebaran virus corona di Sao Paulo, Brasil, Senin (27/4).  Kasus-kasus virus corona baru di rumah sakit, kamar mayat, dan kuburan yang luar biasa di seluruh Brasil
Foto: AP Photo / Andre Penner
Pria tunawisma makan makanan yang diberikan oleh sukarelawan selama lockdown untuk menahan penyebaran virus corona di Sao Paulo, Brasil, Senin (27/4). Kasus-kasus virus corona baru di rumah sakit, kamar mayat, dan kuburan yang luar biasa di seluruh Brasil

REPUBLIKA.CO.ID,BRASILIA -- Brasil mulai kekurangan peti mati dan lahan pemakaman karena jumlah kematian akibat virus corona meningkat. Di kota Manaus, Amazon banyak orang yang meninggal dunia karena virus tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Di sebuah pemakaman di kota Manaus, sejumlah peti terpaksa dikuburkan secara masal karena tidak ada lahan yang tersisa. Beberapa kerabat tidak mau jenazah orang yang mereka sayangi dikremasi.

Baca Juga

Asosiasi rumah duka nasional telah meminta pengangkutan peti mati dari Sao Paulo ke Amazon Manaus. Presiden Asosiasi Brasil Penyedia Layanan Pemakaman, Lourival Panhozzi mengatakan, jumlah kasus kematian di Manaus berasal dari komunitas suku Amazon yang memiliki akses kesehatan sangat terbatas.

Pada tanggal 30 April, Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan bahwa ada lebih dari 5.200 kasus virus korona yang dikonfirmasi di negara bagian Amazonas, dengan 425 kematian.

Sebelumnya Manaus yang merupakan ibu kota negara bagian Amazonas mencatat kematian rata-rata 20 hingga 35 per hari. Sekarang, jumlah kematian meningkat menjadi 130 per hari. Warga di kota tersebut telah mengabaikan isolasi.

Sebagian besar warga Brasil khawatir peningkatan kematian akibat virus corona akan menghantam wilayah favela, yakni lingkungan kumuh dan miskin di Rio dan Sao Paulo. Selain itu, ada kemungkinan bahwa kedua kota besar tersebut akan kewalahan menangani jumlah kematian ketika Presiden Jail Bolsonaro menghentikan pembangunan pemakaman baru pada April lalu.

"Ada ketakutan besar bahwa kontaminasi yang tidak terkendali akan terjadi di sana," kata Panhozzi.

Luiz Carlos da Rocha, yang tinggal di Rio's Complexo do Alemao cluster favela telah meninggal dunia dan harus menunggu selama lebih dari 12 jam untuk dimakamkan. Kerabat Luiz tidak mengetahui penyebab dia meninggal.

Namun salah satu kerabat mengatakan bahwa Luiz menderita epilepsi. Polisi militer di wilayah tersebut tidak berani menguburkan jenazah Luiz, karena dikhawatirkan dia meninggal dunia akibat virus korona.

Direktur layanan ambulans Sao Paulo, Francis Fuji mengatakan lonjakan kematian baru-baru ini terjadi pada pasien cirus korona yang dipulangkan dari rumah sakit karena mengalami gejala ringan. Ketika di rumah kondisi mereka semakin memburuk dengan cepat hingga akhirnya meninggal dunia.

Paramedis tidak memiliki pelatihan untuk mengidentifikasi virus corona sebagai penyebab kematian. Selain itu, kerabat pasien banyak yang berbohong tentang gejala virus corona yang diderita oleh anggota keluarga mereka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement