Sabtu 02 May 2020 08:18 WIB

Harga Minyak Bukukan Keuntungan Mingguan Pertama

OPEC + sepakat memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari mulai 1 Mei.

Harga minyak dunia (ilustrasi).
Foto: REUTERS/Max Rossi
Harga minyak dunia (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak bervariasi pada akhir perdagangan Jumat, atau Sabtu (2/5) pagi WIB. Kedua acuan membukukan keuntungan mingguan pertama dalam empat pekan.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik 94 sen atau 5,0 persen menjadi menetap pada 19,78 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Sebelumnya, harga minyak naik di atas 20 dolar AS pada awal sesi.

Baca Juga

Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun tipis empat sen atau 0,2 persen, menjadi ditutup pada 26,44 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Kontrak Juni berakhir pada Kamis (30/4/2020) pada 25,27 dolar AS.

Pada April, minyak mentah AS jatuh ke level terendah sepanjang masa dan diperdagangkan negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sementara Brent mencapai level terendah hampir 21 tahun karena pandemi mengikis permintaan. Di sisi lain OPEC dan produsen lain meningkatkan produksi sebelum mencapai kesepakatan pasokan baru yang dimulai pada Jumat.

Setelah tiga minggu berturut-turut mengalami kerugian, minyak mentah Brent mencatat kenaikan sekitar 23 persen. Sementara WTI meningkat sekitar 17 persen.

Perusahaan jasa energi Baker Hughes Co melaporkan WTI mendapat dukungan setelah perusahaan energi AS mengurangi rig minyak selama tujuh minggu berturut-turut. Jumlah totalnya turun menjadi 325 rig, terendah sejak Juni 2016.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen lainnya, yang dikenal sebagai OPEC+, telah sepakat untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari mulai 1 Mei.

Beberapa negara dan wilayah, termasuk provinsi tengah China, Hubei, tempat virus corona baru pertama kali terdeteksi, sedang melonggarkan penguncian untuk menahan virus.

"Stok minyak bumi global kemungkinan memuncak pada April karena permintaan minyak menyusut hampir 25 juta barel per hari secara tahun ke tahun," menurut laporan BofA Global Research.

Meski begitu, ada keraguan pengurangan produksi, yang terbesar yang pernah disepakati, akan cukup karena permintaan tidak mungkin pulih dengan cepat.

"Pemotongan produksi akhirnya dimulai," kata Craig Erlam, analis di broker OANDA.

"Harga masih sangat rendah dan dua minggu ke depan kemungkinan akan melihat volatilitas ekstrem kembali."

Sebuah survei Reuters pada Kamis (30/4) menunjukkan bahwa sebelum penurunan produksi baru, OPEC dengan tajam meningkatkan produksi ke level tertinggi sejak Maret 2019. Ini menambah kelebihan pasokan yang sudah ada di pasar.

"Pemulihan permintaan akan menjadi lemah," kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM. "Terlebih lagi, pemotongan OPEC+ yang mulai berlaku hari ini tidak akan ada obat mujarab untuk ketidakseimbangan pasokan yang lumayan," tambahnya.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement