Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Saturday, 7 Rabiul Awwal 1442 / 24 October 2020

Dampak Covid-19, Data Ekonomi AS dan Eropa Makin Suram

Jumat 01 May 2020 13:58 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Pengangguran (ilustrasi)

Pengangguran (ilustrasi)

30,3 juta pekerja di AS yang terkena PHK mengajukan tunjangan pengangguran.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Data-data baru ekonomi Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan situasi yang makin suram dan menjadi peringatan bagi ekonomi dunia. Jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran menjadi naik lebih dari 30 juta orang, sementara Eropa memasuki fase yang sama.

Dilansir AP News, Jumat (1/5), data-data yang muncul beberapa sudah usang lantaran adanya keterlambatan pemerintah mengumpulkan data. Dengan kata lain, gambaran ekonomi secara riil hampir pasti jauh lebih buruk.

Di AS, pemerintah pemerintah melaporkan bahwa terdapat 3,8 juta pekerja yang telah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mengajukan tunjangan pengangguran pada pekan lalu. Jika dikalkulasikan totalnya menjadi 30,3 juta pekerja hanya dalam enam pekan sejak wabah tejadi.

Sejumlah ekonomi memprediksi bahwa tingkat pengangguran di AS untuk bulan April 2020 bisa mencapai 20 persen. Angka tersebut cukup tertinggi sejak depresi ekonomi tahun 1930-an ketika tingkat pengangguran sudah mencapai 25 persen.

Adapun, jumlah warga AS yang dikeluarkan dari pekerjaan bisa jauh lebih tinggi daripada yang ditunjukkan oleh klaim pemerintah. Sebab, beberapa orang belum melamar dan yang lain tidak bisa melewati sistem di negara bagian. Sebuah jajak pendapat oleh dua ekonom mengemukakan bahwa AS mungkin telah kehilangan 34 juta pekerjaan.

Sementara di kawasan Eropa, terdapat data baru yang lebih suram terjadi di seluruh negara Eropa. Di mana, lebih dari 130 ribu orang meninggal akibat Covid-19. Ekonomi di 19 negara dengan mata uang euro menyusut 3,8 persen pada kuartal pertama 2020. Kontraksi besar-besaran sejak 25 tahun lalu.

"Ini adalah hari paling menyedihkan bagi ekonomi global yang pernah kami saksikan," kata sebuah laporan 50 tahun para ekonom di High Frecuency Economics. Kendati demikian, lagi-lagi statistik tidak sepenuhnya menggambarkan situasi krisis yang terjadi. Angka-angka kuartal I 2020 mencakup periode

Saham di Wall Street jatuh karena berita yang mengecewakan, dengan Dow Jones Industrial Average kehilangan hampir 290 poin, atau lebih dari 1 persen. Bahkan Amazon, yang sangat bergantung pada orang Amerika untuk persediaan barang, menawarkan laporan beragam, dengan penjualan meroket di kuartal pertama tetapi keuntungan turun 29 persen karena meningkatnya biaya untuk mendapatkan semua paket yang dikirim.

Perusahaan masih mengakhiri kuartal dengan catatan yang relatif tinggi, namun, melaporkan laba bersih sebesar 2,5 miliar dolar AS. Kontras yang mengejutkan dengan kerugian yang ditanggung oleh beberapa perusahaan. Salah satunya, American Airlines, dibanting oleh kurangnya penumpang selama wabah, pada hari Kamis (30/4) melaporkan kerugian 2,2 miliar dolar AS untuk periode tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA