Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Imam Al Ghazali: Pemuji Pejabat tak Lain Hanya Pembohong

Kamis 30 Apr 2020 21:03 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Makam Dinasti Seljuk

Makam Dinasti Seljuk

Foto: Anadolu Agency
Dia menyebut Mujiruddin sebagai sosok yang tidak mengenal kasihan

REPUBLIKA.CO.ID, Nasihat Imam Al Ghazali kepada Perdana Menteri Mujiruddin, seorang wazir Dinasti Seljuk yang baru diangkat menjadi perdana menteri tidak selesai pada surat pertama. Pada surat keduanya kepada Mujiruddin, Al Ghazali mengingatkan bahayanya puja-puji berlebihan kepada sang perdana menteri.

Menurut Al Ghazali, pujian kepada pejabat layaknya tali yang rapuh. Pujian disematkan kepada Mujiruddin tidak lain hanya karena statusnya sebagai seorang perdana menteri.

Al Ghazali tidak sungkan untuk berpesan jika Mujiruddin melihat seseorang senang memuji, orang itu tidak lain hanya seorang pembohong. Dialah bahaya tersembunyi bagi Mujiruddin. "Anda adalah tuhannya kedudukan dan kekayaan. Orang-orang yang memuji Anda sekarang akan me nyalahkan Anda dan menyanjung orang lain segera setelah Anda turun dari kedudukan Anda yang sekarang dan orang lain ditugaskan di tempat Anda."

Pada surat ketiganya kepada Mujiruddin, sikap sang imam kian pedas. Menurut Al Ghazali, sikap dan kebijakan Mujiruddin sudah sedemikan jahatnya. Dia bahkan, menyebut Mujiruddin sebagai sosok yang tidak mengenal kasihan kepada penduduk Thus yang sedang hidup menderita. Al Ghazali pun berpesan jika semua yang dilakukan Mujiruddin akan dipertanggungjawabkan pada hari perhitungan kelak.

Perdana menteri itu harus menjawab semua kejahatan yang dilakukannya sendiri. Lantaran, sanak ke rabat Mujiruddin pun harus mengurus diri sendiri. "Anda mesti sadar bahwa tidak ada orang yang akan menggubris atau meng khawatirkan anda. Oleh karena itu, Anda mesti mengasihani diri Anda sendiri."

Al Ghazali lantang mengkritik petugas-petugas pajak korup. Mereka memeras rakyat yang bodoh demi keuntungan sendiri. Mereka tidak memasukkan hakhak pemerintah lainnya yang mereka bebankan dengan tidak wajar ke dalam perbendaharaan pemerintah. "Pikirkanlah warga negara anda yang raganya remuk dan berkeluh kesah akibat kemis kinan dan kelaparan. Kegelisah an yang panjang telah menjadi kan mereka sekadar suatu ke rangka tulang-belulang, sementara itu Anda sendiri menjalani kehidupan mewah dan acuh tak acuh. Jika ada sesuatu yang bisa menurunkan Khurasan dan Irak, tentulah hal itu akibat ulah menteri-menteri seperti itu yang telah diangkat untuk mengurusi urusan-urusan negara. "

Hujjatul Islam juga berpesan, tidak ada kebajikan yang lebih unggul ketimbang upaya untuk menghapuskan kemiskinan dan kekejaman kepada rakyat miskin. Dia meminta agar Mujiruddiin harus berusaha mati-matian untuk menjamin bahwa korupsi, nepotisme, ketidakadilan, pe nyuap an, kekejaman, dan pe nya kit-penyakit lain terhapuskan. Di akhir suratnya, Al Ghazali tetap berharap adanya perubah an sikap dan kebijakan Mujarud din. Dia memohon kepada per dana menteri untuk melakukan segala kemungkinan agar rakyat tidak diperas tanpa belas kasihan. Adanya simpati dan kebaikan Mujirud Daulah bisa menyelamatkan mereka dari kelaparan.

(Disarikan dari buku Surat-Surat Al Ghazali kepada Para Penguasa, Pejabat Negara, dan Ulama karya Abdul Qayyum)

 

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA