Sunday, 29 Safar 1444 / 25 September 2022

Ancaman Kawasaki di Tengah Pandemi Covid-19

Rabu 29 Apr 2020 20:56 WIB

Rep: Eva Rianti/ Red: Budi Raharjo

Penyakit Kawasaki menginfeksi anak-anak. (ilustrasi)

Penyakit Kawasaki menginfeksi anak-anak. (ilustrasi)

Foto: Pexels
Ahli medis sedang selidiki kemungkinan hubungan covid-19 dan kasus peradangan parah.

REPUBLIKA.CO.ID, Harley Grix panik ketika mendapati anaknya yang berusia tiga tahun, Marley menderita penyakit langka yang diduga terkait dengan virus corona. Buah hatinya mengalami gejala yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh Grix, dan barangkali oleh para orang tua lainnya.

Tangan Marley sangat kasar, kaki bengkak merah, dan lidahnya meradang. Matanya menjadi sangat merah, napasnya cepat, wajahnya pucat, dan tubuhnya benar-benar lesu. Saat itulah, Grix langsung melarikan Marley ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Sesampai di Rumah Sakit Frimley Park di Camberley, Surrey, seorang dokter anak dan perawat langsung bergegas menangani Marley, lantas memberikan cairan dan antibiotik kepadanya.

Melihat kondisi Marley, tim medis menilai ada yang aneh. Hal itu pun dirasakan oleh Grix, terutama setelah mengingat bahwa suhu anaknya meningkat selama seminggu. Tim medis mengatakan, kemungkinan yang dialami oleh Marley adalah sepsis, komplikasi berbahaya akibat infeksi, atau kemungkinan sesuatu yang berhubungan dengan virus corona, namun belum benar-benar yakin.

“Mereka (tim medis) juga mengatakan, itu bisa penyakit Kawasaki, yang belum pernah saya dengar dan tidak banyak orang yang pernah saya ajak bicara (tentang itu),” tuturnya.

Penyakit itu terutama menyerang anak-anak di bawah lima tahun dengan gejalanya meliputi pembengkakan kelenjar getah bening, ruam kulit, demam, dan pada kasus yang parah menimbulkan peradangan pembuluh darah koroner. Pasien dengan penyakit Kawasaki membutuhkan pengobatan berupa imunoglobulin atau protein yang disekresikan produk dari sel plasma. Pasien akan diobati dengan satu suntikan intravena dan respons akan terlihat dalam 24 jam.

Namun, kondisi itu tidak terlihat pada Marley. “Apa yang terjadi dengan anak saya, mengapa dia tidak merespons?” tanya grix kepada para dokter dengan kesal.

Tim medis kemudian memberi perlakuan yang sama lagi, tetapi itu tidak berhasil. Karena tak kunjung merespons, sejurus kemudian mereka berbicara dengan pihak Rumah Sakit St George di London dan rumah sakit anak-anak di Southampton. Setelah melihat darah Marley, secara kolektif para tim medis memutuskan akan memberikan anaknya steroid dosis tinggi dan aspirin. “Diagnosis sejauh yang bisa tim medis lakukan adalah apa yang mereka sebut sebagai Kawasaki yang tidak lazim,” katanya.

Sebagai seorang ibu, hati Grix rasanya hancur melihat kondisi anaknya seperti itu. Dia dan suaminya selalu berada di samping Marley untuk bersama-sama berjuang menghadapi penyakit yang terasa ganjal itu. “Rasanya seperti hidup dalam mimpi buruk,” ungkapnya.  

Syukurnya, beberapa waktu kemudian, Marley sudah diperbolehkan pulang, meskipun tubuhnya masih lemah. Secara emosional, Grix, suaminya, dan Marley sudah melalui perjalanan yang sangat traumatis dalam hidupnya dengan menghadapi penyakit langka itu di tengah pandemi.

“Penyakit itu sendiri sangat, sangat langka, terutama di negara ini,” ujarnya kemudian menambahkan, saking langkanya, bahkan dokter senior yang telah menekuni bidang itu selama 30 tahun mungkin hanya melihat tiga pasien.

Marley adalah salah satu dari sejumlah anak yang menderita Kawasaki, penyakit yang dianggap mengherankan karena secara tiba-tiba banyak dialami usia anak-anak di Inggris bersamaan dengan mewabahnya pandemi virus corona.

Menurut informasi News Sky, para dokter di Inggris mengirimkan peringatan darurat tentang meningkatkanya jumlah anak yang sakit parah dengan gejala seperti virus corona, setidaknya dalam tiga pekan terakhir. Peringatan awal tentang gejala seperti virus corona dikeluarkan dokter di London Utara, kemudian dikonfirmasi dengan peringatan mendesak untuk semua dokter pada Ahad (26/4) oleh Pediatric Intensive Care Society (PICS).

Profesor Stephen Powis, direktur medis nasional NHS Inggris mengatakan hal itu sedang dipandang sebagai masalah urgensi. Para ahli medis kini sedang menyelidiki kemungkinan hubungan antara virus corona dan kasus-kasus kondisi peradangan parah yang jarang terjadi di antara anak-anak Inggris.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA