Penjual Takjil di Malaysia Dagangkan Jualan Mereka Online

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Nashih Nashrullah

 Selasa 28 Apr 2020 19:21 WIB

Takjil Ramadhan di Malaysia dijual online karena pandemi Covid-19. Bazar atau pasar Ramadhan di Malaysia di luar masa Covid-19. Foto: BERNAMA Takjil Ramadhan di Malaysia dijual online karena pandemi Covid-19. Bazar atau pasar Ramadhan di Malaysia di luar masa Covid-19.

Takjil Ramadhan di Malaysia dijual online karena pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR – Keluarga Siti Zabedah Abdul Wahab telah 15 tahun berjualan martabak di pasar bazar Ramadhan yang populer di Malaysia. Namun, pada Ramadhan tahun ini untuk pertama kalinya kedai Murtabak Mami Murtabak Sultan menjual produknya melalui WhatsApp dan Facebook. 

Siti Zabedah membuka pesanan martabak secara daring beberapa pekan sebelum Ramadan. Hal ini dilakukan karena pihak berwenang menutup seluruh pasar bazar Ramadhan di tengah pandemi virus korona. 

"Ini adalah pertama kalinya kami berjualan secara online, kami ingin memulai jualan lebih awal untuk memastikan pelanggan tetap dapat membeli produk kami," ujar Siti Zabedah.

Baca Juga

Ramadhan merupakan momentum yang menguntungkan bagi penjual makanan di negara-negara mayoritas Muslim. Sebagian besar umat Muslim pergi keluar rumah untuk makan malam setelah berbuka puasa. 

Tak sedikit pula dari mereka yang memilih untuk berbuka puasa di luar rumah bersama dengan kerabat maupun keluarga.

Namun, pandemi virus korona dan penerapan lockdown telah menyebabkan sejumlah penjual makanan harus memutar otak agar dagangan mereka tetap bisa terjual. 

Pihak berwenang Malaysia telah memberlakukan karantina nasional hingga pertengahan Mei dan menutup sejumlah pasar ramadhan. Biasanya, pasar ramadhan ramai dikunjungi warga yang ingin berburu takjil maupun hidangan lainnya untuk berbuka puasa.

Pembatasan sosial ini memaksa ribuan pedagang kaki lima untuk merangkul platform digital. Mereka sangat terpukul dengan pandemi ini dan diperkirakan mengalami kerugian sekitar 11,5 juta dolar AS untuk 100 ribu pedagang. 

Untuk mengatasi dampak kerugian tersebut, beberapa perusahaan telah mengembangkan platform e-bazaar. Platform ini membantu para pedagang agar tetap bisa menjual produknya dan dapat menjangkau pelanggan dengan lebih luas secara daring. Platform ini bekerja sama dengan perusahaan pengiriman untuk mengantarkan pesanan tersebut. 

Namun, banyak bisnis makanan kecil lebih menyukai untuk menjual langsung dagangan mereka kepada pelanggan ketimbang berjualan secara online dengan platform e-bazaar. Karena, laba yang mereka raup tidak cukup untuk membayar perusahaan pengiriman.

"Kurva penjualan akan sangat curam, tapi kita tidak punya pilihan," ujar Presiden Asosiasi Pedagang Melayu dan Pedagang Melayu Malaysia, Rosli Sulaiman.

Rosli mengatakan, pedagang makanan kaki lima di Malaysia masih belum terbiasa menggunakan platform digital untuk berjualan. 

Berbeda dengan pedagang kaki lima di negara tetangga mereka, Indonesia yang sudah sangat menikmat kehadiran platform digital untuk menjual produk mereka.

"Di Indonesia, Anda dapat memesan hampir semua yang Anda inginkan melalui aplikasi. Di sini kita harus melakukan edukasi karena vendor terbiasa berjualan di jalan. Menggunakan aplikasi online atau bertransaksi tanpa uang tunai akan menjadi hal yang baru bagi mereka," ujar Rosli. 

Kini, puluhan grup pasar bazar Ramadhan Malaysia telah muncul di Facebook. Para penjual menawarkan layanan pengiriman produk mereka kepada pelanggan secara daring. Para pedagang makanan di Singapura juga telah beralih menggunakan platform digital untuk menjajakan dagangan mereka, ketika pasar ramadhan ditutup.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X