Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Emansipasi Pahala: Kesetaraan Gender dalam Alquran

Selasa 28 Apr 2020 05:00 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Muslimah di dalam Alquran

Muslimah di dalam Alquran

Foto: republika
Dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki tugas dan tanggungjawab yang sama.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Fuady, Faculty of  Medicine, Universitas Indonesia

Perempuan, pada masa jahiliyah, bukan hanya tak sejajar dengan laki-laki, tetapi hampir tak punya kuasa apa pun di tengah peradaban maskulin yang perkasa. Jika ada seorang lelaki dari kalangan mereka meninggal dunia, kata Ibnu Abbas, maka janda dari si mayit tidak punya banyak pilihan.

Para wali si mayat lelaki dianggap lebih berhak terhadap diri si janda. Jika ada yang menyukainya, maka ia berhak terlebih dahulu untuk mengawininya. Jika tidak ada yang suka, mereka boleh mengawinkannya dengan orang lain. Jika mereka pun menginginkan agar si janda tidak kawin, mereka boleh menahannya dan tidak mengawinkannya dengan siapa pun.

Ikatan kebiasaan itu meluruh setelah Rasulullah ﷺ mendapatkan wahyu yang tegas: laa yahillu lakum an taritsun nisaa-a karhan. Tidak halal bagi kalian mempusakai, mewariskan para istri yang ditinggal mati suaminya, dengan cara paksa. Para lelaki pun diingatkan agar tidak menyusahkan kondisi para perempuan, menempatkannya di pojok-pojok kesulitan sehingga para lelaki mendapatkan ruang untuk meminta balik mas kawin yang telah mereka berikan kepada istrinya.

Ayat itu menjadi ayat kemerdekaan yang nyata bagi para perempuan. Insiatif emansipasi yang mendobrak laku jahil manusia yang terperangkap dalam tradisi bias gender. Secara sosiopolitik, ayat ini telah menjadi dobrakan yang teramat kuat di masanya –jauh sebelum tradisi non-emansipatorik gender musnah di tanah Eropa dan jajahannya.

Tetapi, kemajuan itu pun terasa masih mengganjal bagi para perempuan. Mereka merasa jarang dipanggil dalam ayat-ayat yang turun, dalam wahyu-wahyu yang makin menabal. Kedatangan Ummu Salamah menjadi salah satu istri di Pondok Nabi ﷺ membawa angin perubahan yang signifikan.

Beliau adalah perempuan tipikal superior, berasal dari kelompok aristokrat. Berbeda dengan Aisyah dan Hafshah yang lebih dahulu menjadi istri Nabi ﷺ dan berasal dari kelompok kelas pekerja. Kedua kaum ini seringkali memiliki kepentingan yang berbeda -terlepas dari keimanan dan kepatuhan mereka kepada Rasulullah ﷺ.

Ummu Salamah, dengan demikian, membawa ide dan pertanyaan dari perempuan-perempuan kelas atas dan sering mencari dukungan dari kelompok ketiga: ahlul bayt –orang-orang terdekat dalam keluarga Nabi ﷺ. Kecekatannya, juga kematangannya yang lebih unggul daripada Aisyah dan Hafshah yang pada masa itu masih remaja, berhasil menampung keresahan para perempuan. Ia lekas menjadi juru bicara para perempuan Madinah.

Pada suatu hari, ketika Ummu Salamah Bersama Rasulullah ﷺ, pertanyaan itu dikeluarkannya dengan sopan. Maa lanaa laa nudzkaru fil Qur-an kamaa yudzkarur rijaal? Mengapakah kami para perempuan tak pernah disebut-sebut dalam Alquran seperti para lelaki disebut-sebut?

Keresahan itu memang menggenang begitu saja di jiwa para perempuan Madinah. Mereka khawatir jika status mereka sebagai perempuan tak sama seperti status laki-laki di hadapan Allah, pahala dan ganjaran yang mereka terima tak sama besar dengan yang para lelaki terima dari kebaikan-kebaikan yang mereka kerjakan.

Ayat-ayat yang turun dalam wahyu memang belum pernah spesifik menyebutkan perempuan –dalam dhamir-nya yang jelas. Jika pun ada, seruan-seruan itu bersifat umum, general, untuk laki-laki dan perempuan tanpa terkecuali.

Manusia memang butuh sentuhan yang jelas, spesifik, dan personal yang merujuk pada diri mereka untuk benar-benar merasakan panggilan dan kedekatan. Fitrah itu selalu muncul. Kita yang tak pernah secara nyata dipanggil oleh pimpinan tak akan pernah merasa spesial. Di mana posisi kita, hanya ada terkaan dan sangkaan.

Kita yang tak pernah dipanggil "sayang" barangkali hanya merasa segalanya berjalan biasa saja apa adanya. Kita yang tak pernah dipanggil namanya, karakternya, sebutannya, ciri-cirinya, hanya akan tenggelam dalam rasa penasaran di tengah-tengah kerumunan manusia lain.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA