Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Iran akan Buka Kembali Masjid-Masjid yang Steril Covid-19

Senin 27 Apr 2020 19:56 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nashih Nashrullah

Masjid-masjid di Iran yang ditanyakan steril Covid-19 akan dibuka.  Masjid di Teheran Iran disulap jadi pabrik masker dan APD Covid-19.

Masjid-masjid di Iran yang ditanyakan steril Covid-19 akan dibuka. Masjid di Teheran Iran disulap jadi pabrik masker dan APD Covid-19.

Foto: Dailymail.
Masjid-masjid di Iran yang ditanyakan steril Covid-19 akan dibuka.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Iran berencana membuka kembali masjid-masjid di beberapa wilayah negara itu, yang dinilai secara konsisten bebas dari wabah virus corona jenis baru (Covid-19). 

Secara bertahap pembatasan yang diberlakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran virus juga dilaporkan telah dikurangi.  

Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengatakan selama masa pandemi, negara akan dibagi menjadi beberapa wilayah yang didasarkan jumlah kasus Covid-19 dan kematian. 

Baca Juga

Dilansir Aljazirah, wilayah ini terdiri dari putih, kuning, dan merah. Kegiatan di masing-masing wilayah akan dibatasi sesuai dengan tingkat keparahan kasus dan kematian terkait Covid-19.

Dalam pernyataan melalui situs web kepresidenan, Rouhani, mengatakan daerah yang secara konsisten bebas dari infeksi atau kematian akan diberi label putih dan dengan demikian, masjid-masjid dapat dibuka kembali dan sholat Jumat diizinkan untuk diselenggarakan.  

Meski demikian, Rouhani mengatakan label yang diberikan ke wilayah mana pun di negara itu dapat berubah. Ia tidak menentukan dan memberikan informasi secara rinci tentang kapan program kode warna akan berlaku.  

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Iran, Iraj Harirchi, mengatakan dalam sebuah wawancara  116 daerah di negara itu dapat dikategorikan sebagai wilayah zona putih saat ini dan 134 berwarna kuning. Dalam satu pekan terakhir, pembatasan di negara itu telah perlahan dikurangi dan banyak warga yang keluar untuk pergi ke toko, pasar, maupun taman.  

Mencari keseimbangan antara melindungi kesehatan masyarakat dan ekonomi yang sudah terpukul sanksi, Pemerintah Iran telah menahan diri untuk tidak memaksakan pembatasan besar-besaran, seperti lockdown yang diberlakukan banyak negara lainnya. 

Namun, penutupan sekolah dan universitas tetap berlanjut, serta larangan pertemuan terkait agama, budaya, dan olahraga.  

Iran menjadi salah satu negara yang terpukul wabah Covid-19 di Timur Tengah. Sejauh ini tercatat ada 90.481 kasus infeksi virus dan terdapat 5.710 kematian. Sementara, jumlah pasien yang telah dinyatakan pulih adalah 69.657 orang.

Virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan infeksi penyakit Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, Cina pada Desember 2019. Sejak saat itu, virus terus menyebar secara global ke berbagai negara lainnya di dunia. 

Di Iran, dua kasus virus corona jenis baru pertama kali diumumkan pada 19 Februari dan seluruhnya berasal dari Qom. Karena bisa memakan waktu hingga dua minggu untuk menunjukkan gejala, kemungkinan banyak orang dari kota itu mulai tertular infeksi sejak awal Februari dan kemudian terus berlanjut ke wilayah-wilayah lainnya. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA