Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Batal Disuntik Boeing, Embraer Buka Opsi Bailout

Senin 27 Apr 2020 11:13 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Produsen pesawat asal Brasil Embraer SA menghadapi masa ketidakpastian setelah ‘dibuang’ Boeing Co dengan meninggalkan perjanjian senilai 4,2 miliar dolar AS di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Tapi, perusahaan tidak mengesampingkan rencana mencari bailout atau pemberian dana langsung.

Produsen pesawat asal Brasil Embraer SA menghadapi masa ketidakpastian setelah ‘dibuang’ Boeing Co dengan meninggalkan perjanjian senilai 4,2 miliar dolar AS di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Tapi, perusahaan tidak mengesampingkan rencana mencari bailout atau pemberian dana langsung.

Foto: AP Photo/Mic Smith
Perusahaan akan melakukan penghematan biaya dan meyakinkan likuiditas solid.

REPUBLIKA.CO.ID, SAO PAULO -- Produsen pesawat asal Brasil Embraer SA menghadapi masa ketidakpastian setelah ‘dibuang’ Boeing Co dengan meninggalkan perjanjian senilai 4,2 miliar dolar AS di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Tapi, perusahaan tidak mengesampingkan rencana mencari bailout atau pemberian dana langsung.

Seperti dilansir Reuters, Senin (27/4), CEO Embraer Fransisco Gomes Neto bersama jajaran dewan komisaris perusahaan telah mengadakan pembicaraan tengah malam. Mereka meninjau kembali rencana Embraer di tengah kompetisi kerdigantaraan yang semakin ketat.

Baca Juga

Neto yang masih memiliki sedikit pengalaman kerdigantaraan berusaha mengumpulkan staf untuk membicarakan kondisi perusahaan. Ia mencoba memberikan semangat kepada karyawan dengan menyampaikan rekam jejak Embraer. 

"Sejarah kita dipenuhi dengan masa-masa sulit dan kita telah mengatasi semuanya," ucapnya kepada 20 ribu staf Embraer yang disambut dengan 'acungan jempol'.

Tapi, kondisi Embraer sebenarnya sedikit berbeda. Perusahaan kini harus menghadapi kebijakan lockdown dan isolasi di banyak negara. Di sisi lain, sang rival, Bombardier telah berkembang melalui kerjasama dengan produsen Eropa, Airbus.

Konsultan Tael Group Richard Aboulafia mengatakan, kondisi tersebut dapat memberikan dampak besar pada Embraer. “Sulit untuk menekan supplier Anda ketika volume yang Anda tawarkan hanya sebagian kecil dari pesaing Anda,” tuturnya.

Fokus utama Embraer sekarang adalah meyakinkan investor. Oleh karena itu, perusahaan berjanji melakukan penghematan biaya dan memastikan masih ada likuiditas keuangan yang solid.

Embraer yang merupakan mantan perusahaan milik pemerintahan Brasil tidak meminta bailout, namun tidak menampik bahwa opsi tersebut terbuka untuk 'pelengkap' sumber pembiayaan. Embraer bersama perusahaan Brasil lain, termasuk maskapai penerbangan dan produsen mobil, untuk memperjuangkannya.

Sejauh ini, Embraer memiliki dua rencana untuk investor yang kini perlahan menghilang. Pertama, perusahaan akan membayar dividen 1,6 miliar dolar AS dari penjualan. Kedua, perusahaan akan menerima uang tunai cukup untuk menghapus utang dan meremajakan unit pertahanan serta jet eksekutif.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA