Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

WHO: Jumlah Kematian Akibat Malaria di Afrika Dapat Berlipat

Jumat 24 Apr 2020 14:55 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Seorang wanita mengawasi ketika anggota Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan berpatroli di jalan pemukiman informal Diepsloot, utara Johannesburg, Afrika Selatan. WHO ingatkan terlalu fokus pada Covid-19 bisa tingkatkan kematian karena malaria. Ilustrasi.

Seorang wanita mengawasi ketika anggota Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan berpatroli di jalan pemukiman informal Diepsloot, utara Johannesburg, Afrika Selatan. WHO ingatkan terlalu fokus pada Covid-19 bisa tingkatkan kematian karena malaria. Ilustrasi.

Foto: AP/Themba Hadebe
WHO ingatkan terlalu fokus pada Covid-19 bisa tingkatkan kematian karena malaria

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa jumlah kematian yang disebabkan oleh malaria di negara-negara sub-Sahara Afrika dapat meningkat dua kali lipat. Kondisi itu dapat terjadi karena sejumlah pihak terlalu fokus untuk mengatasi pandemi virus corona.

Direktur Regional WHO untuk Afrika Matshidiso Moeti mendesak semua negara untuk memastikan bahwa pencegahan malaria terus berlanjut selama pandemi virus corona. Menurutnya, jika tidak ditangani dengan serius jumlah kematian akibat malaria akan naik dua kali lipat dibandingkan 2018.

"Sebuah analisis menemukan bahwa jika distribusi kelambu yang telah diberi insektisida berhenti dan manajemen kasus berkurang, maka kematian akibat malaria di Afrika dapat berlipat ganda dibandingkan 2018. Ini akan menjadi kematian yang tertinggi sejak tahun 2000," ujar Moeti dilansir Aljazirah. 

Malaria adalah penyakit yang dibawa oleh nyamuk dan mengancam jiwa. Gejala penyakit ini yakni demam, kedinginan, dan gejala mirip flu. Malaria merupakan penyakit yang dapat diobati jika didiagnosis lebih awal. Namun, obat anti-malaria di sejumlah daerah saat ini tidak mempan karena meningkatnya resistensi terhadap obat.

Pada tahun 2018, ada 213 juta kasus malaria dan 360 ribu kematian terkait di wilayah Afrika. Jika pihak berwenang terlalu fokus pada penanganan virus corona maka hal itu dapat mengurangi akses ke obat-obatan anti malaria sebesar 75 persen. Dengan demikian, kasus kematian akibat malaria bisa berlipat ganda menjadi 769 ribu.

Anak-anak berusia di bawah lima tahun paling rentan terkena malaria. Pada 2018, sebanyak dua pertiga kematian akibat malaria adalah anak-anak. WHO meminta negara-negara di sub Sahara Afrika mendistribusikan alat pencegahan dan pengobatan malaria sebelum kewalahan dengan virus corona.

"Negara-negara di seluruh wilayah memiliki peluang kritis untuk meminimalkan gangguan dalam pencegahan dan pengobatan malaria dan menyelamatkan hidup pada tahap pandemi Covid-19 ini," kata WHO dalam sebuah pernyataan.

Dalam sebuah pernyataan terpisah pada Kamis, WHO mengulangi seruan untuk tetap memberikan layanan imunisasi di seluruh dunia. Hal ini untuk mencegah munculnya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti campak dan polio.

"Sementara dunia berusaha untuk mengembangkan vaksin baru untuk Covid-19, kita tidak boleh mengambil risiko kehilangan perjuangan untuk melindungi semua orang, di mana saja terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Penyakit-penyakit ini dapat muncul kembali jika vaksinasi dihentikan," ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA