Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Doa Qunut untuk Keselamatan

Jumat 24 Apr 2020 14:20 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Sejumlah umat Islam membaca doa qunut saat melaksanakan Shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (20/3). Masjid Istiqlal tidak menggelar Shalat Jumat sesuai kebijakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pemerintah Pusat dan daerah untuk mengurangi penyebaran Corona atau Covid-19, namun menggelar Shalat Zuhur berjamaah. Putra M. Akbar/Republika

Sejumlah umat Islam membaca doa qunut saat melaksanakan Shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (20/3). Masjid Istiqlal tidak menggelar Shalat Jumat sesuai kebijakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pemerintah Pusat dan daerah untuk mengurangi penyebaran Corona atau Covid-19, namun menggelar Shalat Zuhur berjamaah. Putra M. Akbar/Republika

Foto: Putra M. Akbar/Republika
Nabi SAW berqunut apabila hendak berdoa untuk keselamatan atau kebinasaan suatu kaum

REPUBLIKA.CO.ID, Doa Qunut menjadi salah satu ritual dalam shalat yang kerap dibacakan. Terlebih, di dalam shalat witir dan shalat Subuh.

Doa qunut dibaca sebelum rukuk sehabis membaca ayat Alquran atau sehabis bangun dari rukuk. "Saya bertanya kepada Anas tentang qunut itu sebelum rukuk atau sesudahnya. Lalu, ia menjawab: "Kita mengerjakan sebelum ataupun sesudah rukuk." (HR Ibnu Majah).

Dari riwayat kebanyakan sahabat, apabila seseorang berqunut sebelum rukuk, dia harus bertakbir terlebih dahulu sambil mengangkat kedua tangannya. Qunut itu dibaca sehabis membaca ayat dan bertakbir sekali lagi setelah berqunut. Namun, Dr Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Ensiklopedia Shalat menjelaskan, yang lebih afdhal adalah qunut setelah rukuk karena lebih banyak disebutkan dalam hadis.

Hasan bin Ali pernah diajari beberapa kalimat doa qunut yang dibacakan dalam shalat witir. "Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orangorang yang telah Engkau beri ke sehatan. Lindungilah aku seperti orang-orang yang telah Engkau berikan kepadaku. Lindungilah aku dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan karena sesungguhnya hanya Engkau yang dapat menetapkan sesuatu dan tidak ada lagi yang berkuasa atas diri- Mu… "

Ada ulama yang mengatakan pada saat qunut disunahkan untuk mengangkat tangan. Namun, ada sebagian lain yang tidak menganggapnya sunah. Adapun, ritual mengusap wajah setelah mem baca doa qunut tidak disepakati oleh Imam Baihaqi. Menurut dia, praktik qunut cukup mengikuti apa yang dikerjakan para sahabat. Mereka mengangkat kedua tangan tanpa meng usapkan ke wajah pada waktu shalat.

Meski demikian, ada juga sebagian ulama yang menganggapnya sunah. Ini disandarkan pada hadis "Dari Saib bin Yazid dari ayahnya, "Apabila Rasulullah SAW berdoa, beliau selalu meng angkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan." (HR Abu Dawud, 1275).

Doa Qunut juga pernah dibacakan Rasulullah SAW saat mubaligh utusannya yang mengajak beberapa golongan orang musyrik ke dalam agama Islam dibunuh. Nabi SAW berturut-turut berqunut dalam shalat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh.

Nabi SAW berqunut dalam rakaat terakhir ketika itidal sehabis mengucapkan "Sami'allahu li man hamidah". Di situ, Nabi SAW berdoa untuk kebinasaan Banu Sulaim, Ra'al, Dzakwan dan Ushaiyah, sedangkan makmum di belakangnya mengaminkan doa tersebut.

Abu Hurairah menjelaskan, Nabi SAW berqunut apabila hendak berdoa untuk keselamatan atau untuk kebinasaan suatu golongan. Beliau SAW berqunut se te lah selesai rukuk. Beliau membaca Sami Allahu liman hamidah, Rabbana lakalhamdu, dia berdoa. "Ya Allah, selamatkanlah Walid bin Walid, Salmah bin Hisyam, Aiyasy bin Abu Rabiah serta semua kaum Mukminin yang lemah. Ya Allah keraskanlah tekan an-Mu atas golongan kaum Mudlar. Jadikanlah tahun-tahun mereka itu sebagaimana tahun Nabi Yusuf (masa paceklik)".

Rasulullah membaca doa qunut dengan suara keras. Adakalanya, Nabi SAW dalam sebagian shalatnya, yakni di waktu shalat Subuh mengucapkan doa, "Ya Allah, kutukilah si Fulan dan si Fulan (yang dimaksud adalah dua suku bangsa Arab)".

Namun, Allah SWT menjawab dengan ayat, "Soal yang demikian itu bukan menjadi urusanmu (wa hai Muhammad), apakah Tuhan akan menerima tobat mereka atau hendak menyiksa mereka. Tetapi, sebenarnya mereka itu memang orang-orang yang aniaya." (HR Ahmad dan Bu khari).

photo
Menag Lukman Hakim membaca qunut nazilah bersama umat Islam di Masjid Istiqlal - (dok. Kemenag.go.id)

Membaca Doa Qunut dalam shalat Subuh kerap diperselisihkan para ulama. Di Tanah Air, mayoritas Muslim memang melakukan doa qunut ketika shalat Subuh. Ini sesuai dengan mazhab Syafii yang menganggap qunut dalam Shalat Subuh adalah sunah.

Anas bin Malik pernah ditanya demikian: "Apakah Nabi SAW berqunut dalam shalat Subuh? Ia menjawab: Ya, sesudah rukuk." Hadis lainnya yang juga berasal dari Anas, yakni "Rasulullah SAW itu selalu berqunut dalam shalat Subuh hingga beliau wafat." (HR Baihaqi).

Namun, ada juga golongan ulama lain yang menganggap membaca qunut setelah shalat Subuh adalah sesuatu yang di ada-adakan. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nasa'i dan Turmidzi yang berasal dari Abu Malik al-Asyjai menjelaskan, "Ayahku bersembahyang di belakang Rasulullah SAW ketika masih berusia 16 tahun. Juga di belakang Abu Bakar, Umar dan Utsman. Saya bertanya: apakah beliau-beliau itu berqunut?" Ayah menjawab: "Tidak. Wahai anakku itu hanya sesuatu yang diada-adakan."

Tak hanya itu, Ibnu Hibban pun meriwayatkan hadis hasan dari Anas. "Nabi Saw itu tidak pernah berqunut dalam shalat Subuh kecuali bila untuk mendoakan kebaikan atau kebinasaan sesuatu kaum."

Menurut Said Sabiq, hadis-hadis yang dijadikan dalil untuk qunut pada shalat Subuh harus ditinjau apa latar belakangnya. Kemungkinan, ujar dia, apa yang ditanyakan tersebut masih dalam konteks qunut nazilah.

Dia pun menilai, tidak masuk dalam akal jika selama hidupnya Rasulullah SAW berqunut dalam shalat Subuh, tetapi tidak diikuti oleh para khalifah. Hanya, menurut Said Sabiq, andai hadis pendukung qunut di dalam shalat subuh dinilai sah, yang dimaksudkan adalah Nabi SAW memperpanjang berdiri sehabis rukuk. Beliau berdoa atau mengucapkan pujian. Ritual ini dilakukan hingga Nabi SAW wafat. Menurut Said Sabiq, perbuatan ini pun termasuk dalam arti qunut. 

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA