Covid-19 Surutkan Penjualan Daging Meugang di Aceh

Red: Indira Rezkisari

 Kamis 23 Apr 2020 18:58 WIB

Pedagang memotong daging yang dijajakan pada hari tradisi pemotongan hewan (meugang) di Beurawe, Banda Aceh, Aceh, Rabu (22/4/2020). Warga tetap melaksanakan tradisi meugang menyambut bulan Ramadan di tengah darurat pandemi COVID-19. Foto: Antara/Irwansyah Putra Pedagang memotong daging yang dijajakan pada hari tradisi pemotongan hewan (meugang) di Beurawe, Banda Aceh, Aceh, Rabu (22/4/2020). Warga tetap melaksanakan tradisi meugang menyambut bulan Ramadan di tengah darurat pandemi COVID-19.

Tak hanya saat meugang, sejak pandemi Covid-19 penjualan daging di Aceh sepi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Kalangan pedagang daging di pasar tradisional di Banda Aceh dan Aceh Besar mengaku daya beli masyarakat menurun pada hari meugang menjelang bulan suci Ramadhan 1441 Hijriah. Meugang adalah tradisi makan bersama saat Ramadhan di Aceh.

Aziz Awee, pedagang daging di Pasar Lambaro Aceh Besar yang dihubungi dari Banda Aceh, Kamis (23/4), mengatakan penurunan daya beli mencapai 50 persen dari hari meugang Ramadhan tahun lalu. "Kalau hari meugang tahun-tahun sebelumnya, kami bisa menjual daging dari 12 ekor sapi. Kalau sekarang, hanya enam ekor. Turun, hingga 50 persen," kata Aziz Awee.

Aziz menduga berkurangnya daya beli akibat pandemi Covid-19 yang menyebabkan masyarakat diharuskan di rumah saja. Dampak lainnya, banyak masyarakat tidak bekerja karena usaha banyak yang tutup.

"Kini, tidak hanya daging meugang, daya beli daging di hari biasa juga berkurang. Kami berharap kondisi pandemi Covid-19 cepat berlalu, sehingga daya beli daging masyarakat kembali normal," kata Aziz Awee.

Terkait harga daging di hari meugang, pada Rabu (22/4) maupun Kamis (23/4), Aziz Awee mengatakan harga daging kualitas premium mencapai Rp 150 ribu per kilogram. Harga ini naik dibanding hari biasa yang hanya Rp 130 ribu per kilogram.

"Kenaikan harga daging di hari meugang disebabkan meningkatnya harga beli hewan ternak seperti sapi. Kenaikan ini karena di setiap hari meugang, permintaan daging meningkat," kata Aziz Awee.

Menyangkut kondisi pasar daging meugang di saat pandemi Covid-19, Aziz Awee mengatakan masih ada pedagang maupun pembeli yang mengabaikan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19.

"Di antaranya masih ada yang tidak memakai masker, baik pedagang daging maupun pembeli. Padahal, tim Covid-19 ada bagi-bagi masker di pasar ini," kata Aziz Awee.

Sudirman, peternak sapi di kawasan Pango, Ulee Kareng, Banda Aceh, juga merasakan sepinya pembeli. Menurut dia, harga seekor sapi di hari meugang biasanya naik Rp 2 juta hingga Rp 5 juta juga per ekor.

"Harga tergantung besar kecilnya, berkisar Rp 18 juta hingga Rp 40 juta. Namun, permintaan sapi di hari meugang tahun ini sedang sepi. Mungkin, saat ini lagi wabah virus corona," kata Sudirman.

Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga maupun kerabat. Meugang dilaksanakan dua hari menjelang bulan puasa, Idul Fitri, maupun Idul Adha atau hari raya kurban.


sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X