Senin 13 Apr 2020 15:03 WIB

PM Jepang Dikiritik tidak Sensitif pada Kondisi Pekerja

PM Jepang meminta rakyatnya di rumah tanpa memberi kompensasi.

Rep: Dwina Agsutin/ Red: Nur Aini
Sejumlah orang menonton layar tv yang menampilkan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat berbicara di kediaman resmi perdana menteri di Osaka, Jepang, Senin (6/4). Shinzo Abe mengatakan bahwa ia akan mendeklarasikan keadaan darurat untuk Tokyo dan enam prefektur lainnya secepatnya pada Selasa (7/4)
Foto: Kyodo News via AP
Sejumlah orang menonton layar tv yang menampilkan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe saat berbicara di kediaman resmi perdana menteri di Osaka, Jepang, Senin (6/4). Shinzo Abe mengatakan bahwa ia akan mendeklarasikan keadaan darurat untuk Tokyo dan enam prefektur lainnya secepatnya pada Selasa (7/4)

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Pesan "stay home" dari Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mendapatkan kritik tajam dari publik. Unggahan pesan di media sosial Twitter itu telah menarik reaksi kemarahan karena dinilai tidak sensitif terhadap orang-orang yang tidak bisa beristirahat di rumah.

Beberapa kicauan menyatakan, unggahan Abe seperti menunjukan sikap bangsawan yang dapat bersantai dengan tenang di rumah. Pengguna media sosial lainnya menyatakan ketidaksetujuan dengan mempertanyakan maksud unggahan itu.

Baca Juga

Kemarahan publik muncul karena langkah-langkah jarak sosial yang dianjurkan pemerintah yang tidak dibarengi dengan kompensasi. Kondisi itu yang membuat perusahaan tidak memiliki kewajiban membuat karyawan libur atau bekerja di rumah.

Abe mengunggah video berdurasi satu menit yang memperlihatkan dia sedang duduk di rumah, tanpa ekspresi, memeluk anjingnya, membaca buku, menghirup minuman dicangkir, dan mengklik remot. Video itu, pada layar terpisah, menampilkan penyanyi dan aktor populer Gen Hoshino memetik gitar di rumah, tetapi kemudian selebritas itu menyatakan videonya digunakan tanpa seizinnya.

Pemerintahan Abe memang telah menyatakan keadaan darurat di Tokyo dan enam prefektur lainnya pada pekan lalu. Kondisi itu membuatnya meminta orang-orang untuk tinggal di rumah dan mengurangi interaksi manusia sebanyak 80 persen.

Tapi, banyak perusahaan Jepang lambat untuk beralih ke kerja jarak jauh dan banyak orang terlihat masih melakukan perjalanan untuk bekerja. Laporan terbaru, Jepang memiliki 507 kasus baru yang terkonfirmasi dengan total 7.255 kasus dengan 114 kematian. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement