Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Cara Yunani Berhasil Redam Covid-19

Jumat 10 Apr 2020 04:03 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Indira Rezkisari

Burung merpati memenuhi lapangan kosong di Athena, Yunani. Wabah Covid-19 membuat Yunani juga menerapkan kebijakan lockdown.

Burung merpati memenuhi lapangan kosong di Athena, Yunani. Wabah Covid-19 membuat Yunani juga menerapkan kebijakan lockdown.

Foto: EPA
Kasus Covid-19 Yunani jauh lebih rendah dari Italia dan Spanyol.

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA -- Yunani menjadi salah satu negara di daratan Eropa yang dianggap cukup berhasil menekan penyebaran wabah virus corona atau Covid-19. Negara pada dewa itu telah memberlakukan lockdown sejak 23 Maret 2020 lalu.

Lockdown Yunani jauh lebih awal dari banyak negara tetangganya di Benua Biru tersebut. Tapi sepekan sebelumnya, pemerintah Yunani telah mengintruksikan menutup bar dan restoran.

Seperti dikutip dari Independent, saat ini dampak yang diterima Yunani akibat Covid-19 tidak seburuk di Italia, Perancis dan juga Spanyol dengan 81 kematian dan lebih dari 1.800 kasus. Sebagai perbandingan, Italia telah menderita 17.127 kematian dan 135.586 kasus. Aturan ketat pun diberlakukan di Yunani selama lockdown.

Baca Juga

Supermarket pun menerapkan langkah-langkah pengendalian kerumunan. Setiap orang harus mengambil nomor masuk untuk memastikan hanya ada satu orang per setiap 15 meter persegi.

Kemudian setiap orang yang meninggalkan rumah mereka juga harus membawa formulir yang merinci alasan mereka untuk keluar dan KTP. Patroli polisi reguler memantau pergerakan warga dan mengganjar denda 150 euro kepada mereka yang dianggap melanggar peraturan. Kerapuhan sistem perawatan kesehatan di Yunani menjadi kekuatan pendorong dalam tindakan pencegahan.

"Kuncinya adalah bahwa ada respons yang sangat cepat karena pemerintah khawatir sistem layanan kesehatan tidak akan mengatasi krisis sebelumnya dan pemotongan, dan apa artinya ini bagi rumah sakit," ujar asisten profesor di Queen Mary Universitas London dan Universitas Panteion, Athena, Stella Ladi, dikutip dari Independent, Jumat (10/4).

Lanjut Stella Ladi, Italia sering dilihat tidak hanya sebagai tetangga tetapi sebagai negara cermin bagi Yunani. Melihat kasus dari Italia dan apa yang terjadi di sana mendorong pemerintah dan orang-orang untuk menganggapnya serius. Pada awal Maret, Yunani ini memiliki 565 tempat tidur unit perawatan intensif untuk populasi hampir 11 juta.

Kemudian mereka meningkatkan kapasitas. Terutama permintaan ruang di rumah sakit swasta, serta penciptaan tempat tidur unit perawatan intensif baru di rumah sakit umum.

Sejauh ini hampir dua kali lipat kapasitas ICU negara itu menjadi 910 tempat tidur. Bahkan jika masih diperlukan, tempat tidur dan peralatan medis terus ditambah

Sementara itu asisten profesor kebersihan dan epidemiologi di Universitas Nasional dan Kapodistrian Athena, Gkikas Magiorkinis, mengatakan di Yunani keputusannya menutup sumber utama penyebaran virus. Mulai dari sekolah, kemudian konferensi dan pertemuan orang-orang penting lainnya telah dilakukan jauh sebelumnya di jalan epidemi.

"Hasilnya, apa yang telah dilakukan Yunani lebih efektif dalam menahan penyebaran," tutur Gkikas Magiorkinis.

Norma Simos, seorang penduduk kota Perama di Yunani utara mengatakan orang-orang sebagian besar telah tinggal di rumah tempat dia tinggal. Sehingga jalanan cukup sepi di sini.

Ia mengaku cukup kaget penduduk Yunani sangat disiplin tetapi sebenarnya tidak. Menurutnya, semua orang mencari cara untuk bertahan. Bahkan apoteker lokal memasang jendela kecil untuk menghindari kontak.

“Saya juga berpikir Yunani telah membuktikan ketahanannya selama beberapa tahun terakhir, sebuah keterampilan yang diwarisi dari generasi sebelumnya yang bertahan melawan rintangan besar melalui perang, penindasan, dan kelaparan," tutur Norma Simos.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA