Kamis 09 Apr 2020 16:10 WIB

Brasil Dorong Perusahaan Lokal Produksi Ventilator

Brasil gagal beli ventilator dari China sehingga minta perusahaan lokal berproduksi

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih
Ventilator, salah satu alat penting yang dibutuhkan dalam menangani pasien Covid-19. Brasil gagal beli ventilator dari China sehingga minta perusahaan lokal berproduksi. Ilustrasi.
Foto: BBC
Ventilator, salah satu alat penting yang dibutuhkan dalam menangani pasien Covid-19. Brasil gagal beli ventilator dari China sehingga minta perusahaan lokal berproduksi. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BRASILIA -- Pemerintah Brasil mendorong perusahaan lokal untuk memproduksi ventilator untuk mengatasi pandemi virus korona. Keputusan ini dibuat setelah Brasil gagal melakukan pemesanan ventilator dari China.

"Semua pembelian peralatan kesehatan kami di China tidak dikonfirmasi," ujar Menteri Kesehatan Brasil, Luiz Henrique Mandetta.

Baca Juga

Brasil berupaya untuk membeli 15 ribu ventilator dari China. Namun, pesanan Brasil tersebut tidak pernah dikonfirmasi oleh China. Mandetta mengatakan Brasil telah merekrut pembuat peralatan medis lokal, Magnamed, untuk membuat enam ribu ventilator dalam 90 hari. Selain itu, Perusahaan pulp dan kertas Suzano SA dan Klabin SA, termasuk pembuat mobil Fiat Chrysler juga telah menawarkan untuk memproduksi ventilator.

Di tengah krisis pasokan alat medis, sebuah perusahaan swasta Brasil mengatakan bahwa mereka berhasil membeli 40 ton masker dan alat uji dari China. Pengiriman alat medis tersebut tiba dengan pesawat kargo di Brasilia pada Rabu (9/4).

Pembelian masker dan alat uji tersebut menelan biaya senilai 30 juta dolar AS. Pembelian ini dilakukan oleh perusahaan farmasi dan peralatan rumah sakit, Nutriex, yang berbasis di Goiania sekitar 220 kilometer dari Brasilia. Perusahaan berencana untuk menyumbangkan sebagian dari pesanan ke lembaga medis.

Pada Rabu, kasus infeksi virus corona yang dikonfirmasi di Brasil melonjak menjadi 15.927 dengan 800 kematian. Rio de Janeiro melaporkan kematian pertama akibat virus corona di daerah kumuh di sebuah lereng bukit yang disebut favela. Otoritas kesehatan khawatir penularan virus corona akan terjadi dengan cepat di daerah tersebut. Dua dari enam kematian terjadi di Rocinha, salah satu daerah kumuh terbesar di Amerika Selatan.

Mandetta melaporkan kasus pertama virus corona di komunitas suku Yanamomai yang merupakan salah satu suku asli Brasil. Pemerintah berencana membangun rumah sakit lapangan untuk suku-suku asli Brasil yang rentan terhadap penularan virus korona.

Para antropolog dan pakar kesehatan memperingatkan bahwa pandemi tersebut dapat berdampak buruk pada 850 ribu penduduk asli Brasil. "Kami sangat prihatin dengan masyarakat adat," kata Mandetta.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement