Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Ini Hal yang Bisa Ganggu Kesuksesan PSBB Covid-19

Kamis 09 Apr 2020 14:59 WIB

Red: Joko Sadewo

Petugas Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengambil sampel darah warga saat tes cepat (rapid test) COVID-19 dengan sistem

Petugas Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mengambil sampel darah warga saat tes cepat (rapid test) COVID-19 dengan sistem

Foto: Antara/Muhammad Iqbal
Data penderita covid-19 lemah dan aktivitas masyarakat masih tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lambatnya tes covid-19 dan masih tingginya aktivitas masyarakat di Jakarta maupun daerah lain, akan menjadi persoalan dalam penghambat penyebaran virus. Dan ini akan berefek pada perekonomian.

Ekonom senior INDEF Dradjad Wibowo mengatakan pada Jumat (10/4), Jakarta mulai menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Daerah lain juga sedang meminta /menimbang mengajukan PSBB.  "Tujuan PSBB adalah menekan penyebaran SARS-CoV-2 dari satu orang ke orang lain. Apakah ini akan efektifkah?” ungkap Dradjad, Kamis (9/4).

Menurutnya, ada dua titik lemah yang harus diatasi segera terkait dengan masalah PSBB ini. Pertama terkait dengan tidak diketahui dengan pasti data jumlah kasus positif korona di Jakarta dan Indonesia.  Dengan sangat minimnya jumlah tes, tentu ada sejumlah kasus yang tidak terdeteksi, entah berapa jumlahnya.

Sebagai indikasi, kata Dradjad, banyak sekali jenazah yang dimakamkan dengan prosedur Covid-19 di Jakarta, yang belum diketahui positif tidaknya. Hal yang sama bisa terjadi di daerah lain.

Baca Juga


Kedua, kata Dradjad, aktifitas warga Jakarta sejak Senin (6/4), terlihat masih terlalu tinggi untuk pengendalian wabah. Di daerah lain juga sama.

"Tanpa tahu berapa, siapa dan di mana orang yang positif korona, sementara aktifitas penduduk masih tinggi, bagaimana bisa memotong penularan?” ungkap ketua Dewan Pakar PAN tersebut.

Jadi langkah awalnya seharusnya banyak melakukan deteksi dini. Dengan sebanyak mungkin dan secepat mungkin melakukan tes.

"Sayangnya, selain terlalu sedikit, tes ini justru sangat lambat. Itu salah satu keluhan Gubernur Ridwan Kamil,” kata Dradjad.

Diingatkannya, tes korona yang terlalu sedikit dan lambat akanberdampak besar terhadap perekonomian. "Justru dampaknya sangat besar. Dia menjadi pintu pertama, apakah wabah akan terkendali atau meledak,” papar Dradjad.

Jika program tes berhasil, diikuti disiplin masyarakat dan pelayanan kesehatan yang bagus, menurutnya, wabah berpeluang dikendalikan. Aktifitas ekonomi dan bisnis bisa berputar kembali. "Jika wabah meledak, lihat saja bagaimana Lombardia Italia,” kata dia.

Selain itu, menurut Dradjad, tes yang cepat juga sangat penting bagi perawatan pasien.Tingkat fatalitas kasus Covid-19 di Indonesia tergolong tinggi. Indonesia sudah kehilangan banyak SDM unggul. Mulai dari dokter, perawat, akademisi, pilot, birokrat senior hingga pengusaha sukses seperti di Semarang. Kerugian ekonominya tidak terhitung.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA