Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Buwas Curhat Impor Kerbau Susah Gara-Gara Izin Lambat

Kamis 09 Apr 2020 13:48 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Daging kerbau (ilustrasi)

Daging kerbau (ilustrasi)

Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Kuota penugasan impor kerbau yang diberikan kepada Bulog sebanyak 100 ribu ton.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas) mengaku kesulitan untuk menjalankan penugasan pemerintah dalam mengimpor daging kerbau beku dari India. Hal itu lantaran adanya keterlambatan penerbitan izin impor dari Kementerian Perdagangan kepada Bulog.

Buwas menuturkan, importasi daging kerbau telah diajukan oleh Bulog kepada pemerintah sejak awal tahun 2020. Keputusan rapat koordinasi terbatas (Rakortas) level Kementerian Koordinator Perkonomian telah memutuskan untuk menugaskan Bulog mengimpor daging kerbau. Kuota penugasan yang diberikan kepada Bulog sebanyak 100 ribu ton.

"Tapi, tidak langsung mendapatkan izin impor. Izin diberikan setelah muncul wabah Covid-19. Begitu, wabah muncul, India lockdown, jadi terhambat," kata Buwas dalam Rapat Dengar Pendapat Virtual bersama Komisi IV DPR, Kamis (9/4).

Akibat pemerintah India yang menerapkan lockdown, proses pengiriman tidak dapat dilakukan. Hal itu, kata Buwas, telah disampaikan langsung oleh eksportir daging kerbau di India kepada Bulog.

Buwas melanjutkan, Bulog sudah berusaha untuk bisa mendapatkan daging kerbau beku dari India yang telah dikirim ke Malaysia. Langkah itu awalnya bisa dilakukan lantaran Malaysia tengah menerapkan kebijakan lockdown. Namun, kata Buwas, nyatanya tetap tidak bisa karena seluruh akses ditutup.

"Lalu ada usulan, bagaimana kalau ditukar dengan daging ayam? Bisa saja. Tapi tidak bisa otomatis karena harus ada penugasan," kata dia.

Ia pun mengakui bahwa proses birokrasi pemerintah dalam penyediaan bahan pangan amat sulit. Baik untuk hal importasi maupun pengadaan dalam negeri oleh Bulog.

Padahal, kata Buwas, Bulog selalu melakukan antisipasi sejak jauh hari karena kebutuhan pangan telah dapat diprediksi dengan tepat. Hanya saja, proses birokrasi di tubuh pemerintah kerap kali membuat Bulog membutuhkan waktu lebih.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA