Puasa Cerdaskan Otak, Begini Penjelasan Klinisnya

Red: A.Syalaby Ichsan

 Kamis 09 Apr 2020 11:20 WIB

ilustrasi puasa syawal Foto: republika/mgrol101 ilustrasi puasa syawal

Banyak ulama, tokoh, intelektual, dan bintang pelajar yang berhasil karena puasa

REPUBLIKA.CO.ID, Selain menyehatkan tubuh, puasa juga mencerdaskan otak. Hasil penelitian Dr Ebrahim Kazim dari Trinidad Islamic Academy, dengan menggunakan EEG (perekam gelombang otak) juga menunjukkan, puasa membuat tidur lebih berkualitas atau deep sleep,sehingga berpengaruh pada perbaikan otak.

Imam as-Suyuthi ketika berumur 21 tahun dapat menulis separuh kitab tafsir al-Jalalain yang belum dirampungkan gurunya, Imam al-Mahalli, saat berpuasa. Semuanya dilakukan dalam tempo empat puluh hari mulai dari awal Ramadhan sampai 10 bulan Syawal 870 H. 

Selain Imam as-Suyuthi, banyak pula ulama, tokoh, intelektual, dan bintang pelajar yang menuai keberhasilan karena terbiasa menjalani ibadah puasa. Beberapa orang pun mengaku, dapat berpikir lebih cepat saat berpuasa.

Guru Besar dalam Bidang Neurologi FKUI Jakarta Prof Dr Teguh AS Ranakusuma SpS(K) menyatakan, sel otak dan sel pembuluh darah merupakan dua organ yang memiliki kecerdasan tinggi.

Menurut dia, tak salah bila puasa dikatakan bias mencerdaskan otak karena berdasarkan penemuan terbaru, ternyata puasa dapat memperbarui semua sistem organ dalam tubuh, termasuk otak. "Puasa dengan niat baik dan bersungguh-sungguh mampu memperbarui fungsi organ, termasuk otak," jelas Teguh.

Ia menjelaskan, pada saat puasa manusia memerlukan banyak energi, terutama ke otak. Hanya saja, bila setiap orang berpikir tentang puasa maka otak pun dapat bertahan dengan energi seadanya. Keinginan seseorang untuk berpuasa yang dikirim ke otaknya dapat membuat seseorang mampu dan lebih jernih dalam berpikir.

Karena itu, ia mengatakan, puasa harus dilatih sejak kecil. "Memang, hanya orang pintar yang mau berpuasa karena ia tahu akan mendapat balasan pahala dari Allah," ujarnya.

Teguh menambahkan, orang dapat menahan lapar dan dahaga karena otaknya selalu berpikir tentang imbalan dari perbuatan tersebut atau disebut pahala. 

sumber : Dialog Jumat
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X