Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Covid-19 Paksa Transformasi Bisnis Online Makanan-Minuman

Kamis 09 Apr 2020 05:33 WIB

Red: Ratna Puspita

Pedagang mengenakan masker merapikan dagangannya di Pasar Tradisional Cihapit, Jalan Cihapit, Kota Bandung. Pandemi Covid-19 memaksa terjadinya transformasi bisnis makanan dan minuman, termasuk pasar tradisional bisa menerima pesanan online.

Pedagang mengenakan masker merapikan dagangannya di Pasar Tradisional Cihapit, Jalan Cihapit, Kota Bandung. Pandemi Covid-19 memaksa terjadinya transformasi bisnis makanan dan minuman, termasuk pasar tradisional bisa menerima pesanan online.

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Pasar tradisional harus menjalankan pengantaran barang setelah terima pesanan daring.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat ekonomi Andry Satrio dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai pandemi Covid-19 berhasil mempercepat bahkan memaksa terjadinya transformasi bisnis makanan dan minuman. Aktivitas jual belinya dari tradisional menjadi daring atau online kini berlangsung lewat prinsip digitalisasi.

Baca Juga

"Saat ini semua pihak dipaksa untuk beraktivitas secara daring dan menerapkan prinsip digitalisasi. Kalau tidak, kegiatan perekonomian serta bisnis akan mati," ujar Andry Satrio dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu (8/4) malam.

Pengamat tersebut mencontohkan bagaimana pasar tradisional saat ini mau tidak mau harus bisa menjalankan prinsip pengantaran barang setelah menerima pesanan secara online atau via telepon. "Kalau tidak bisa, kalah dari kompetitor lainnya," kata dia.

Saat ini, semua aktivitas jual beli dilakukan secara daring dan menjalankan prinsip pengantaran, terutama sektor restoran dan bisnis makanan-minuman. Mereka dipaksa menjalankan bisnis dengan pesanan dapat dilakukan secara daring.

"Transformasi itu sebelumnya tidak ada yang bisa secepat sekarang setelah munculnya pandemi Covid-19. Supermarket pun sekarang bisa melayani pemesanan via aplikasi social media seperti Whatsapp," kata Andry Satrio.

Peneliti ekonomi Indef Muhammad Zulfikar Rakhmat menilai sisi positifnya pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada semua pihak untuk bagaimana beraktivitas secara daring. Menurut dia, saat ini semua orang bisa belajar dan mengetahui bagaimana sistem kerja, pendidikan, dan sejumlah aktivitas bisnis bisa dilakukan secara daring, termasuk beraktivitas dari rumah.

"Ke depannya, saya melihat akan banyak orang-orang, baik di Indonesia maupun dunia, bekerja dan beraktivitas secara online karena pandemi Covid-19 telah membuka wawasan bahwa beberapa aktivitas termasuk bisnis bisa dimungkinkan melalui secara digitalisasi," kata Zulfikar Rakhmat.

Sebelumnya, Senior Director Office Services Colliers International Indonesia (konsultan properti), Bagus Adikusumo, mengatakan, pola kerja dari rumah (work from home/WFH) diperkirakan bakal menjadi lebih lumrah dalam penerapannya oleh sejumlah kantor perusahaan akibat dampak dari Covid-19. Pola kerja dari rumah diperkirakan akan berlanjut setelah pandemi dapat tertangani.

Menurut dia, kemungkinan kelak WFH akan menjadi model bisnis yang menarik untuk diteruskan sehingga bakal ada berbagai penyesuaian dari pola kerja perusahaan. Namun, dia melanjutkan, bila memang pola kerja akan makin lebih banyak yang melakukan WFH, situasi ini diperkirakan juga akan mengurangi permintaan terhadap ruang perkantoran.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA