Tuesday, 3 Syawwal 1441 / 26 May 2020

Tuesday, 3 Syawwal 1441 / 26 May 2020

Mata Minus Tinggi tak Bisa Melahirkan Normal?

Kamis 09 Apr 2020 05:41 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Pemilik mata minus tinggi disarankan memeriksa retinanya tiap enam bulan sekali. Ilustrasi

Pemilik mata minus tinggi disarankan memeriksa retinanya tiap enam bulan sekali. Ilustrasi

Foto: wikipedia
Ada anggapan menyebut penderita mata minus parah tidak akan bisa melahirkan normal.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Banyak beredar anggapan yang menyebut bahwa penderita mata minus parah tidak akan bisa melahirkan melalui proses normal. Benarkah demikian?

Dokter spesialis mata dr. Zoraya Ariefia Feranthy, SpM mengatakan tidak ada bukti ilmiah yang kuat jika mengejan dapat membuat retina mata lepas atau sobek. Hal ini lah yang sering dikhawatirkan oleh para dokter kandungan saat pasien bermata minus ingin melahirkan normal.

"Baik perempuan dan laki-laki, semua memiliki risiko retina mata sobek atau lepas. Tapi enggak ada tuh kaitan langsungnya antara melahirkan dengan syaraf retina sobek," kata Zoraya dalam Instagram Live "Menjaga Kesehatan Mata Anak di Era Digital", Rabu (9/4).

Menurut Zoraya, semua orang yang memiliki mata dengan minus tinggi berisiko mengalami retina sobek. Ia menerangkan bahwa beberapa tahun belakangan, dokter kandungan sudah jarang yang mengkhawatirkan hal itu.

"Yang perlu diperhatikan adalah kalau retina matanya memang sudah sobek, dari penelitiannya enggak pernah ada yang menyatakan ini. Saat bangun bagi bisa saja kok mata tiba-tiba gelap karena retinanya lepas. Makin ke sini jarang ada dokter obgyn yang mengatakan itu," jelasnya.

Zoraya juga menyebutkan ciri-ciri seseorang yang retinanya sobek atau lepas. Biasanya, penglihatan akan terganggu seperti ada rambut. "Kelihatannya kayak ada rambut terbang-terbang, kalau udah parah kayak ada tirai hitam di mata. Kalau kerusakannya luar mata gelap banget," ujar Zoraya.

Retina lepas atau sobek bisa disembuhkan dengan cara operasi. Jika tidak terlalu parah, bisa dipulihkan dengan menggunakan laser. "Biasanya ini terjadi pada orang dewasa, kalau anak-anak jarang. Sembuh bisa dengan operasi tergantung kerusakannya. Bisa juga menggunakan laser di daerah sobeknya. Kalau sampai lepas ya harus operasi agar bisa menempel kembali," jelas Zoraya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA