Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Penghina Presiden Kala Pandemi Ditangkap, Ini Komentar SBY

Kamis 09 Apr 2020 01:39 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro, Antara/ Red: Andri Saubani

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Foto: Ist
SBY mengimbau polisi menggunakan tindakan persuasif di tengah pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengomentari terbitnya telegram yang isinya mengatur tentang  instruksi bagi penyidik untuk mulai mengantisipasi kasus-kasus salah satunya kasus penghinaan kepada presiden selama situasi pandemi Covid-19. Ia berharap tidak ada satupun warga Indonesia yang kena 'ciduk' lantaran salah berucap di tengah ancaman virus Covid-19.

"Padahal hidup mereka sedang susah di era wabah corona ini. Jangan sampai sudah jatuh, tertimpa tangga pula," kata SBY seperti dikutip dalam laman resmi Facebooknya @SBYudhoyono.

Ia memahami bahwa di tengah situasi saat ini bisa memunculkan 'benturan' antara elemen masyarakat dengan pihak pemerintah. Apalagi, kalau sebelumnya sudah ada benih-benih ketidakcocokan dan ketidak-sukaan antara elemen masyarakat dan pemerintah.

"Dalam keadaan darurat dan sekaligus krisis seperti sekarang ini, sebaiknya pemerintah bisa mencegah terjadinya masalah baru. Misalnya masalah sosial, ataupun masalah politik, yang bisa mengganggu upaya pemerintah menyelamatkan rakyat dari wabah virus corona yang mematikan ini," ujarnya.

SBY mengimbau, agar penegak hukum mengutamakan tindakan persuasif dan pencegahan terlebih dahulu. Namun, jika tindakan persuasif dirasa sudah tidak mempan, baru dilakukan pendekatan hukum.

Selain itu mantan Ketua Umum Partai Demokrat juga memohon agar pemerintah tidak alergi terhadap pandangan dan saran dari pihak di luar pemerintahan. Menurutnya, banyak kalangan yang menyampaikan pikirannya, dengan sedikit kritis, tetapi justru sangat pro pemerintah.

"Amat berbahaya jika ada pihak yang menyampaikan pandangan kritisnya, dan kebetulan mereka itu pernah bertugas di pemerintahan SBY, atau sekarang tidak berada dalam koalisi pemerintahan Presiden Jokowi, lantas dianggap sebagai musuh pemerintah. Sebagai musuh negara. Menurut saya, pandangan dari pihak di luar pemerintah itu tetap ada gunanya jika pemerintah sudi untuk mendengarkannya," jelasnya.

Baca Juga

SBY sekaligus meminta masyarakat tidak terlalu cepat menuduh pemerintah tidak serius bahkan tidak berbuat apa-apa di dalam menanggulangi wabah Covid-19. SBY mengingat dulu juga pernah mengalami hal yang sama sewaktu menduduki jabatan Presiden RI. Ketika itu, kata dia, Indonesia juga sedang berada dalam krisis ekonomi global.

"Saat itu saya tegang, letih, dalam suasana seperti itu, secara bertubi-tubi dan di banyak tempat saya diserang dan dihina. Di parlemen, di media massa, dan di jalanan dengan macam-macam unjuk rasa. Kata-katanya sangat kasar dan menyakitkan," ujar SBY.

SBY mengatakan beberapa kali isterinya Ani Yudhoyono menangis saat itu. Terkadang, SBY juga hampir tidak kuat dengan hinaan-hinaan yang melampaui batas yang ditujukan kepadanya. Namun, SBY berkata, sebagai nakhoda, dia harus kuat, harus tegar, dan harus sabar.

"Saya menghibur diri saya sendiri, saya dibeginikan karena saya pemimpin, karena saya presiden. Semua menjadi tanggung jawab saya, kodrat saya. Kalau saya tidak kuat dan patah di tengah jalan, justru negara akan kacau. Rakyat justru akan menderita. Karenanya saya tetap fokus pada tugas dan kewajiban saya. Saya yakin bahwa badai pasti berlalu," tutur SBY.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA