Tuesday, 23 Zulqaidah 1441 / 14 July 2020

Tuesday, 23 Zulqaidah 1441 / 14 July 2020

Frustasi Covid-19, Ketua Dewan Penelitian Uni Eropa Mundur

Rabu 08 Apr 2020 16:54 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

Uni Eropa

Uni Eropa

Ketua Dewan Penelitian menilai Eropa tidak bekerja sama mengatasi pandemi Covid 19.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Ketua panel sains Uni Eropa, Mauro Ferrari mengundurkan diri karena frustasi dengan beban krisis virus corona atau Covid-19. Ferrari baru menjabat sebagai ketua Dewan Penelitian Eropa pada 1 Januari lalu.

"Profesor Ferrari mengundurkan diri," kata juru bicara Uni Eropa Johannes Bahrke mengkonfirmasi laporan tersebut, Rabu (8/4).

Pengunduran diri Ferrari yang tiba-tiba dan kritik kerasnya terhadap Uni Eropa diperkirakan akan menambah beban blok tersebut. Ia menilai negara-negara Eropa tidak bekerja sama dalam mengatasi pandemi virus corona.

Berita tentang pengunduran diri Ferrari ini pertama kali dilaporkan oleh Financial Times. Surat kabar yang bermarkas di London, Inggris tersebut merilis pernyataan resmi Ferrari.

Dalam pernyataan tersebut Ferrari mengatakan 'sangat kecewa dengan respon Uni Eropa' dalam menanggulangi pandemi. Ia mengeluh mengalami hambatan institusional dan politik saat ingin bergerak cepat membangun program ilmiah untuk mengatasi virus yang kini disebut Covid-19.

"Saya merasa cukup melihat operasi politik dan tata kelola ilmu pengetahuan di Uni Eropa, saya sudah kehilangan kepercayaan pada sistemnya sendiri," kata Ferrari dalam Financial Times.

Komisi Uni Eropa membela upaya mereka menanggulangi pandemi. Mereka mengatakan dalam waktu singkat sudah membangun 18 proyek penelitian dan pengembangan untuk mengatasi krisis virus corona. Uni Eropa menambahkan sebanyak 50 proyek Dewan Penelitian Eropa sudah berkontribusi dalam upaya tersebut.

"Uni Eropa memiliki paket yang paling komprehensif dalam langkah mengatasi virus corona dan mengerahkan berbagai instrumen untuk mendapatkan dampak besar dalam mengatasi krisis," kata Komisi Eksekutif Uni Eropa.

Saat ini Eropa menjadi episentrum virus corona. Uni Eropa dikritik karena tidak cukup berkoordinasi dalam upaya menanggulangi krisis walaupun kesehatan publik di 27 negara anggotanya menjadi salah satu tanggung jawab blok tersebut.

Selama satu bulan terakhir negara-negara Uni Eropa mulai mencoba meningkatkan kerja sama mereka. Pemimpin-pemimpin negara Eropa sudah berjanji untuk memperbaiki koordinasi demi meredam korban jiwa dan dampak ekonomi yang disebabkan pandemi.

Namun perpecahan antara negara anggota tampaknya masih menjadi tantangan terbesar Uni Eropa. Terutama setelah menteri-menteri ekonomi dan keuangan mereka gagal menyepakati bantuan fiskal senilai setengah triliun euro.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA