Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Pakar Tanggapi Ajakan Viral tidak Memindahkan Virus

Rabu 08 Apr 2020 15:54 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Model tiga dimensi dari partikel virus SARS-CoV-2 virus atau dikenal sebagai 2019-nCoV. Virus tersebut adalah penyebab Covid-19 atau virus corona jenis baru.

Model tiga dimensi dari partikel virus SARS-CoV-2 virus atau dikenal sebagai 2019-nCoV. Virus tersebut adalah penyebab Covid-19 atau virus corona jenis baru.

Foto: EPA-EFE/NATIONAL INSTITUTES OF HEALTH
Virus tidak akan bisa hilang sendiri hanya dengan tidak ke mana-mana.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belakangan muncul gerakan mengajak masyarakat serempak berhenti melakukan kegiatan apa pun selama tiga hari dan berdiam saja di rumah. Pertanyaannya, apakah gerakan berhenti total selama tiga hari bisa efektif menghentikan penyebaran virus Covid-19?

Ajakan yang viral di media sosial juga berisikan informasi mengenai virus yang tidak bisa pindah kecuali dipindahkan. Selain itu, jika dalam 24 jam tidak dipindahkan, virus mati sendiri. Pelaksanaannya mulai tanggal 10 sampai 12 April 2020.

Gerakan ini dibuat dalam sejumlah flyer dari berbagai pihak, termasuk kepolisian dan biro perjalanan. Namun, menurut praktisi klinis yang juga Dekan FK UI Prof Ari Fahrial Syam, informasi yang disampaikan tersebut adalah hoaks.

Menurut dia, kalau di dalam tubuh masih ada virus, tidak ke mana-mana hanya dalam tiga hari tidak akan membantu. Sang carrier masih bisa menularkan ke orang lain meski masa tiga hari telah lewat. Karena itu, menurut Prof Ari, tidak ada jaminan selama tiga hari virus bisa hilang.

Ia mengungkapkan informasi tersebut menyesatkan bila banyak masyarakat yang memercayainya. Bahkan, ia pun tidak mengerti maksud dalam flyer yang mengatakan virus corona jika tidak dipindahkan dalam 24 jam mati dengan sendirinya. "Saya juga tidak mengerti maksud tidak dipindahkan dalam 24 jam akan mati," ujarnya kepada Republika.co.id, Rabu (8/4).

Sementara itu, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Zaenal Abidin mengaku tidak mengetahui mengenai informasi tersebut. "Tidak tahu juga," katanya.

Prof Ari menyarankan, begitu menemukan berita yang belum pasti kebenarannya, sebaiknya masyarakat berhati-hati. Harus diperiksa kebenarannya dan tanyakan ke pakar-pakar mengenai kebenarannya. "Berita hoaks kalau tersebar di masyarakat akan kacau, jadi tidak benar."

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA