Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Melanjutkan Hidup Usai Lockdown di Wuhan

Rabu 08 Apr 2020 11:14 WIB

Red: Indira Rezkisari

Pelancong mengenakan masker dan pakaian perlindungan untuk menjaga penyebaran virus corona jenis baru melewati papan pengumuman di Bandara Wuhan Tianhe, di Wuhan, Hubei, Rabu (8/4). Kebijakan lockdown mulai diangkat mengakibatkan ribuan orang meninggalkan kota dengan pesawat dan kereta.

Pelancong mengenakan masker dan pakaian perlindungan untuk menjaga penyebaran virus corona jenis baru melewati papan pengumuman di Bandara Wuhan Tianhe, di Wuhan, Hubei, Rabu (8/4). Kebijakan lockdown mulai diangkat mengakibatkan ribuan orang meninggalkan kota dengan pesawat dan kereta.

Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Kebijakan lockdown Wuhan namun masih berlanjut bagi beberapa warganya.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Indira Rezkisari

Ribuan orang bersiap meninggalkan kota Wuhan di Provinsi Hubei, China. Status penutupan wilayah (lockdown) Kota Wuhan, China, resmi berakhir per hari ini (8/4).

Ribuan orang pun menyiapkan diri meninggalkan kota tersebut untuk kembali ke pekerjaan mereka di kota lain. Larangan meninggalkan kota perlahan diangkat sejak dua pekan lalu sejumlah kota-kota di Provinsi Hubei mengalami relaksasi karantina. Provinsi Hubei memiliki populasi 60 juta jiwa penduduk, kurang lebih seukuran Italia.

Penduduk diperbolehkan meninggalkan kota selama mereka memiliki semacam sertifikat sehat. Mereka masih harus membawa kode QR atau surat yang menunjukkan mereka dalam kondisi sehat sehingga diperbolehkan meninggalkan area perumahan dan menggunakan transportasi publik atau masuk ke pertokoan.

Dikutip dari South China Morning Post, Rabu (8/4), Tang Zhiyong, seorang warga Wuhan dan VP perusahaan furnitur Red Star Macalline mengatakan berencama ke Shanghai tempat perusahaannya berlokasi. "Sebagai manajer bisnis, saya biasa butuh banyak istirahat, tapi saya merasa butuh untuk bekerja sekarang," katanya. Tang sudah berada dalam isolasi selama lebih dari dua bulan di Wuhan.

Tang mengatakan dia terus menerima gaji meskipun terjebak di kotanya. Pemerintah telah mengumumkan langkah yang bisa diambil untuk membantu perusahaan tetap menggaji karyawannya selama karantina.

Bulan lalu, dewan wilayah mengumumkan kebijakan yang ditujukan melindungi pekerjaan dengan janji memotong biaya tertentu atau mensubsidi bisnis.

Langkah relaksasi di Wuhan muncul setelah China memutuskan melarang WNA masuk. Larangan terpaksa diambil ketika kasus di dalam negeri tercatat rendah namun kasus di banyak negara lain justru melonjak.

Baca Juga

photo
Sejumlah orang dengan memakai masker berjalan di area perbelanjaan, Wuhan, Cina, Senin (6/4). - (ROMAN PILIPEY/EPA-EFE)



Selama dua pekan terakhir kebanyakan pasar swalayan dan supermarket di Wuhan telah dibuka kembali. Jalanan di kota pun telah lebih semarak.

Kepolisian setempat kemarin mengatakan lalu lintas di Wuhan yang berpenduduk 11 juta jiwa itu mencapai separuh level di Desember, masa sebelum virus corona jenis baru belum mewabah. Kota ini mulai lockdown sesaat sebelum Imlek, momen ketika jutaan orang China pulang ke kampung halamannya.

Perusahaan kereta api China memprediksikan sekitar 55 ribu penumpang meninggalkan Wuhan hari ini. Sebanyak 40 persen di antaranya menuju ke Pearl River Delta di Guangdong.

Diangkatnya kebijakan karantina tapi belum berakhir untuk sebagian warga Wuhan. Seorang murid PhD yang tinggal dalam kampus Huazhong University of Science and Technology, Xiao Fei, masih belum boleh meninggalkan kampus.

"Mungkin butuh waktu yang sangat lama sampai kehidupan benar-benar kembali normal," kata Xiao. "Masyarakat Wuhan boleh meninggalkan provinsinya, tapi mungkin orang di provinsi lain masih takut dengan mereka dan saya lihat potensi diskriminasi," sambungnya.

Kota Wuhan memang belum tuntas dengan urusan mengidentifikasi pasien tanpa gejala dan memperhatikan terus pasien yang sudah sembuh. Pasalnya selalu ada kemungkin pasien sembuh kembali positif, ujar salah satu ketua Satgas Covid-19 di Wuhan, Tao Cunxin.

photo
Sejumlah orang dengan memakai masker berjalan di area perbelanjaan, Wuhan, Cina, Senin (6/4). Wuhan yang merupakan pusat penyebaran wabah koronavirus, akan mencabut lockdown pada 8 April besok. - (ROMAN PILIPEY/EPA-EFE)



Pada Senin terdapat laporan tambahan 34 kasus asimptomatik atau tanpa gejala. Kasus baru dilaporkan terjadi di 70 kawasan perumahan selama tiga hari terakhir. Namun 97 persen kawasan perumahan di Wuhan telah dipastikan bebas virus oleh dinas kesehatan setempat.

Dibukanya kebijakan karantina bagaimana pun membawa suka cita warganya. Sejumlah media China menurunkan foto-foto suka cita warga masyarakat Wuhan, khususnya kalangan anak-anak.

Pada Rabu dini hari petugas keamanan membuka blokade yang terpasang di tengah jalan selama 76 hari terhitung sejak 23 Januari 2020. Warga mulai antre di pintu masuk mal di kota ekonomi terbesar kedelapan di China itu karena harus mendapatkan pengukuran suhu tubuh oleh petugas keamanan.

"Saya akan gunakan kesempatan ini untuk berjalan-jalan sebebasnya," kata Hou, warga Wuhan sebagaimana dikutip media resmi setempat, dikutip dari Antara.

Pertama kali sejak Januari, China tidak melaporkan adanya kematian akibat Covid-19. Kemarin sebanyak 32 kasus dilaporkan terjadi di seluruh China. Semuanya merupakan kasus impor atau kedatangan dari luar negeri.

Sebanyak 1,3 juta orang di dunia telah terinfeksi Covid-19. Kematian akibatnya mencapai 74.744 di seluruh dunia berdasarkan penghitungan John Hopkins University.

Di China total kasus positifnya adalah 81.740 kasus. Sebanyak 3.331 orang meninggal di China akibat Covid-19. Dikutipd dari Guardian, namun muncul rasa skeptis mengenai kemungkinan angka asli terinfeksi dan meninggal di China. Dugaan muncul mengenai kemungkinan angka asli yang ditutup-tutupi.

photo
Cara Penyebaran dan Pencegahan Virus Corona - (Republika)







BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA