Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Peluang Bisnis Komoditas Hortikultura di Tengah Corona

Rabu 08 Apr 2020 05:58 WIB

Red: Gita Amanda

Pandemi corona secara tidak langsung membuat antusiasme masyarakat back to nature.

Pandemi corona secara tidak langsung membuat antusiasme masyarakat back to nature.

Foto: Kementan
Pandemi corona secara tidak langsung melahirkan antusiasme masyarakat back to nature.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Di tengah Pandemi Covid-19, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tetap optimistis bahwa komoditas pertanian bisa tetap stabil. Salah satunya adalah dengan membentuk Toko Tani Indonesia untuk memasarkan hasil pertanian dari para petani di samping juga menggandeng para pelaku usaha/biisnis perrtanian (startup) yang berbasis Teknologi Informas (IT).

Kementerian Pertanian saat ini terus menjalin sinergi dengan pihak-pihak terkait untuk menjamin mata rantai bisnis di sektor pertanian, salah satunya adalah komoditas hortikultura.

Pandemi virus ini secara tidak langsung membuat antusiasme masyarakat ‘back to nature’. Dengan kata lain makin banyak yang mengonsumsi buah mapun sayur.

Demikian disampaikan Direktur Pengolahan, Pemasaran Hasil Hortikuktura, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Yasid Taufik kepada awak media di Jakarta, Selasa (7/4).

“Justru mengapa (prospek bisnis komoditas hortikultura) di tengah Pandemi Covid-19 ini menjadi peluang, karena masyarakat sekarang banyak mengonsumsi vitamin dan mineral yang menguatkan daya tahan tubuh. Dan itu ada pada sayuran dan buah-buahan,” ujar Yasid.

Yasid memaparkan bahwa masyarakat sudah paham kalau buah-buahan maupun sayuran, memiliki kandungan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Terutama yang memang meningkatkan imunitas tubuh.

“Jadi kebutuhan terhadap komoditas hortikultura di tengah Pandemi Covid-19 justru tinggi ya. Ini jelas peluang dan tantangan,” tambah pria berkacamata tersebut.

Tantangan yang dimaksud Yasid Taufik adalah ihwal akses masyarakat saat ini. Seperti diketahui, sejumlah daerah melakukan pembatasan sosial, sehingga akses publik sedikit terhambat.

“Interaksi pembeli dan penjual tidak seintens sebelum pandemi karena pola distribusi seperti komoditas hortikultura, tentu mengalami sedikit hambatan,” jelas Yasid.

Kendati demikian, lanjut dia, bukan berarti tantangan tersebut tak bisa diatasi. Menurut Yasid Taufik, pemerintah saat ini terus bersinergi dengan sejumlah pihak, termasuk lintas kementerian, untuk menjamin kelancaran distribusi pasokan pangan.

Salah satunya dengan mendorong para startup digital yang fokus pada komoditas pertanian. Misalnya saja Sayur Box, Tani Hub, Kedai Sayur.

“Tentu keberadaan mereka ini membantu ya. Mempermudah masyarakat untuk mendapat komoditas hortikultura dengan cara mudah. Khususnya untuk warga Jabodetabek,” beber dia.

“Jadi para petani tidak kesulitan menjual hasil panennya karena ditampung startup. Kemudian pembeli juga bisa mengurangi interaksi langsung atau social distance, karena pembelian dilakukan secara online,” ungkap Yasid.

Dia mengajak kepada masyarakat untuk rutin mengonsumsi buah-buahan dan sayuran. Pandemi Covid-19 harus menjadi momentum untuk back to nature. “Semua sedang berjuang, termasuk para petani. Insyaallah Indonesia akan keluar dari pandemi ini,” tutup Yasid Taufik optimis.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA