Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Mimpi Indah Ojol tentang Karantina Wilayah

Rabu 08 Apr 2020 00:22 WIB

Red: Joko Sadewo

Wartawan Republika, Israr Itah

Wartawan Republika, Israr Itah

Foto: Dok, Pribadi
Enaknya kalau selama masa sulit corona kebutuhan pokok ada yang menanggung.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Israr Itah*)

Jam di dinding rumahku menunjukkan pukul 7 kurang 15 menit saat aku menyisir rapi rambut usai mandi pagi. Aku  hanya punya waktu lima menit untuk siap mengantre di rumah Pak RT, hanya berjarak 100 meter dari tempat tinggalku. Di lapangan sebelah rumah Pak RT, ada tenda sementara yang dijadikan dapur umum. Gunanya untuk memasok makanan bagi warga RT tempatku di kelurahan kami yang mayoritas terdampak wabah corona. Tujuanku sebentar lagi ke sana.

Dapur umum ini disediakan pemerintah sejak karantina wilayah diumumkan. Pemerintah menanggung makanan seluruh  warga terdampak di provinsi kami yang jumlah penderita Covid-19-nya paling tinggi di seluruh negeri ini.

Awalnya pemerintah masih tarik ulur soal karantina wilayah ini. Alasannya beragam, yang paling utama soal keterbatasan anggaran pemerintah untuk menopang kebutuhan warganya. Tapi kemudian kombinasi tekanan masyarakat, seruan dokter, masukan dari badan-badan  amal, dan usulan berbagai pihak yang kompeten, membuat pemerintah menetapkan karantina wilayah ke sejumlah daerah yang dinilai sangat mendesak diterapkan. Selebihnya masih menerapkan aturan lama dengan mengedepankan physical distancing dan social distancing.

Dapur umum jadi salah satu cara untuk meminimalisasi bujet. Alih-alih memberikan bantuan makanan langsung ataupun uang, pemerintah memutuskan mendirikan dapur umum di hampir seluruh RT di provinsi tempat kami tinggal. Tidak semuanya karena sejumlah kompleks yang warganya tergolong mampu dan masih sanggup bertahan dari kriris ekonomi akibat Covid-19 ini menolak pendirian dapur umum.

"Mending dapur umumnya dikonsentrasikan ke tempat-tempat yang lebih membutuhkan. Kami akan siap membantu," kata Pak Dewo, pengusaha terkenal di kota kami yang tinggal di kompleks mewah di daerah selatan dalam satu berita yang pernah kubaca di media daring.

Makanan di dapur umum ini diolah oleh koki-koki yang harus mengikuti protokol kebersihan sesuai standar pencegahan Covid-19, mulai dari persiapan hingga penyajian ke warga. Para koki berasal dari sejumlah rumah makan dan restoran yang dirumahkan karena terdampak Covid-19. Langkah cermat berikutnya dari pemerintah karena para koki ini rela dibayar seadanya, yang penting masih bisa mengantongi uang. Mereka juga dapat makan gratis. Yang paling utama, para koki mengaku rela bekerja dengan bayaran minim agar bisa berkontribusi selama masa sulit ini.

Dalam sehari, mereka memasak dua kali  untuk makan siang dan malam. Pagi harinya, warga diberikan roti dan buah untuk sarapan. Jatah sarapan inilah  yang akan aku ambil sekarang.

Dapur umum ini menggunakan dana pemerintah, tapi bekerja sama dengan lembaga amal atau donatur. Pemerintah menyediakan pasokan gas, listrik, air, dan mesin pendingin raksasa untuk menyimpan bahan makanan di tenda sementara ini. Juga tempat tidur bagi para koki selama bertugas mengolah masakan dalam masa karantina wilayah.

Pemerintah menyediakan bahan dasar seperti beras, telur, minyak, dan sayur-sayuran, beserta bumbunya. Pengelolaan dana belanja dapur umum menjadi tanggung jawab RT yang dipantau warga. Rincian penggunannya diunggah ke dalam situs milik pemerintah yang bisa diakses oleh semua pihak. Setiap dapur umum sudah mendapatkan anggaran. Tapi kalau pada akhirnya ada dana tersisa, uang harus dikembalikan lewat mekanisme yang sudah diatur pemerintah. Tak ada istilah anggaran harus habis.

Di sinilah pemerintah bisa berhemat. Sebab, bantuan dari para donatur dan lembaga crowd funding tak henti mengalir. Hari ini, misalnya, kami akan makan siang enak karena Pak Dewo menyumbangkan satu sapi dari peternakan miliknya. Sarapan kami juga akan makin nikmat karena ada sumbangan roti gandum dari Molan Bakery, brand roti ternama di negeri ini, ditambah selai dan susu segar. Bang Zulham, tetangga kompleks mewah yang terkenal dermawan, menyumbang ratusan kg jeruk dari perkebunannya yang berhektar-hektar. Dapur umum kami mendapat sebagian jatah jeruk itu.

Sudah lima hari karantina wilayah ini berjalan, menu makanan kami berganti terus dan bergizi. Sumbangan berdatangan, mulai dari pengusaha peternakan ayam, peternak lele dan ikan nila, serta bos beras. Lembaga amal pun tak henti memasok bahan makanan yang dibutuhkan dari uang sumbangan donatur. Mereka lebih dulu berdiskusi dengan petugas RT dan mendata bahan yang diperlukan untuk datang kembali keesokan harinya.

Istriku di rumah memang sudah tak lagi memegang uang. Tapi senyumnya makin merekah karena makanan yang kami santap saat karantina wilayah jauh lebih baik dari sebelumnya. Saat karantina wilayah belum ditetapkan, pendapatanku sebagai tukang ojek online menurun drastis. Aku bisa bekerja, tapi hampir tak ada yang menggunakan jasaku karena para karyawan dan pelajar tinggal di rumah selama wabah Covid-19. Boleh bekerja, tapi nggak dapat uang. Buatku, itu seperti boleh pacaran, tapi nggak bisa nikah. Buat apa?

Alhasill, kadang kami sering hanya makan berlauk tempe goreng dengan sambal tipis-tipis karena harga cabai dan bawang mahal. Tapi sejak karantina wilayah, semuanya lebih baik. Dengan karantina wilayah, aku tak boleh keluar rumah, tapi makanan bergizi tersedia terus di meja makan rumahku.

Oh ya, saat mengantre makanan, sudah ada waktu yang ditetapkan oleh pihak RT untuk tiap kepala keluarga. Jadi tak ada antrean panjang. Kami pun diatur berdiri dalam posisi berjarak 1,5 meter. Kami membawa piring atau rantang sendiri dari rumah dan tanpa kontak dengan koki yang membagikan makanan.

Dari yang aku baca selama karantina wilayah, kondisi aman saja karena polisi dan tentara menjaga kantor pemerintahan dan pusat perbelanjaan untuk mencegah pencurian. Tidak ada panic buying karena pemerintah menerapkan aturan tegas soal belanja ini.

Di supermarket misalnya, 1 liter minyak goreng kemasan yang berharga Rp 20 ribu harus ditebus dengan Rp 150 ribu jika kita berbelanja 2 liter. Jadi, otomatis orang-orang hanya berbelanja seperlunya agar tetap bisa menebus barang dengan harga normal. Praktik ini dipantau ketat, termasuk oleh warga. Jika ada laporan dan ternyata kemudian benar, supermarket ini bisa tutup. Hal serupa diterapkan di pasar milik pemerintah.

Rasa bosan pasti ada semasa karantina wilayah ini. Tapi menurutku ini langkah terbaik karena sudah banyak orang bertumbangan dan menemui Sang Pencipta karena tak kuat melawan Covid-19.

Untuk mengusir rasa bosan, warga melakukan banyak hal. Setiap sore, kami biasanya bernyanyi bersama diiringi gitar, meniru yang dilakukan orang-orang Italia sana untuk mengusir kebosanan. Dengan jarak antarrumah yang rapat, mudah saja bagi kami untuk menggelar 'konser'. Pak Yudha biasanya menjadi motor. Beliau piawai bermain gitar dan punya suara lumayan. Pak Yudha admin sebuah pencucian mobil besar di kota, tapi dirumahkan karena pelanggan di tempat kerjanya menurun drastis. Masa karantina ini, beliau bisa menyalurkan kembali bakat bermusiknya.

Ah, giliranku untuk mengambil roti sudah tiba sekarang. Tapi saat aku hendak melangkah maju, tiba-tiba aku merasa ada yang menggoncang-goncang pundakku.

"Pak...Pak...bangun, Pak! Sudah jam 7, bapak harus narik," samar-samar ada suara masuk ke telingaku.

Aku terkejut. Kubuka mataku. Ada sosok istriku dengan wajahnya yang ketat di depan mataku. Oalaahh...ternyata aku cuma mimpi. Yowis, aku mesti narik dulu. Semoga ada yang menggunakan jasa ojekku hari ini. Aamiin.

*) penulis adalah jurnalis republika.co.id

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA