Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Mengenal Perawat Muslimah Pertama, Rufaidah binti Sa'ad

Rabu 08 Apr 2020 06:27 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: A.Syalaby

Perawat dengan mengenakan pakaian APD (Alat Pelindung Diri) berupa baju Hazmat (Hazardous Material) melayani pasien kedua suspect (terduga penderita) COVID-19.

Perawat dengan mengenakan pakaian APD (Alat Pelindung Diri) berupa baju Hazmat (Hazardous Material) melayani pasien kedua suspect (terduga penderita) COVID-19.

Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Dia selalu terdepan dalam membela kaum miskin, anak yatim, atau penderita cacat

REPUBLIKA.CO.ID,Pada masa Nabi Muhammad SAW masih gencar menyebarkan agama Allah, hiduplah seorang perawat Muslimah pertama dalam sejarah Islam. Ia mendedikasikan hidupnya untuk memberikan sentuhan kemanusiaan dan perawatan bagi mereka yang membutuhkan.

Dalam karya milik Muhammad Hamid Muhammad, Shuwarmin Hayat al-Shahabiyyat, disebutkan nama Shahabiyah ini adalah Rufaidah binti Sa'ad Bani Aslam al-Khazraj. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Rufai dah al-Aslamiyyah. Al-Aslamiy yah, panggilan itu sendiri, dinisbatkan kepada marganya, Aslam, klan dari suku Khazraj di Ma dinah.

Rufaidah lahir di Madinah pa da 570 M. Ia dikenal pandai membaca, menulis, serta kaya raya. Ia termasuk kaum Anshar, golongan pertama penganut Islam di Madi nah. Perempuan yang meninggal da lam usia 62 tahun ini mempelajari ilmu keperawatan saat membantu sang ayah yang seorang dokter.

Dari ayahnya ini, ia mendapatkan banyak ilmu mengenai keperawatan. Pengabdian Rufaidah sangat besar. Ia ikut membantu saat terjadi Perang Badar, Uhud, Khaibar, dan Khandaq. Dengan keahlian yang dimiliki, membuat ia merasa terpanggil sebagai sukarelawan bagi korban luka perang dan diizinkan oleh Nabi untuk membantu.

Tak lupa, Rufaidah mendiri kan rumah sakit lapangan untuk membantu para mujahid yang terluka saat berperang. Bahkan, Rasulullah SAW memberikan instruksi kepada para prajurit yang terluka agar dirawat oleh Rufaidah saja. Ia pun melatih beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat dan membantunya mera wat para prajurit perang.

Ia hidup pada abad pertama Hijriyah. Muslimah ini digambarkan seba gai sosok perawat te ladan, baik, dan bersifat empati. Ia seorang pemimpin, organisa toris, juga mampu mengerahkan dan memotivasi orang lain. Ia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinis semata, tapi juga melaksanakan peran komunitas. Ia tak segan memecahkan masalah sosial yang dapat meng akibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Sosoknya kini dianggap sebagai perawat kesehatan masyarakat dan pe kerja sosial yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam.

Selain itu, ia dikenal sebagai pelopor adanya pembagian waktu kerja atau shift yang berlaku di rumah sakit atau puskesmas saat ini. Ini terjadi awalnya keti ka perang terjadi agar para kor ban dapat ditangani dengan baik dan tuntas, Rufaidah membagi jad wal para perawat yang ditunjuk untuk membantunya menjadi dua shift, yaitu shift malam dan shift siang. Di antara para korban yang dirawat Rufaidah hingga sembuh adalah Sa'ad bin Mu'adz. Ia terluka dan tertancap panah di ta ngannya saat Perang Khandak.

Rasulullah pun menyuruh orangorang untuk membawanya ke Rufaidah. Di tenda Rufaidah itu, kesembuhan Sa'ad dipantau setiap pagi dan sore. Atas jasanya itu, Rasulullah memberinya bagi an ganimah sama seperti bagian laki-laki, meskipun keterlibatannya dalam peperangan hanya sebagai perawat.

Konstribusi Rufaidah merambah sebagai aktivis sosial. Dia selalu terdepan dalam melakukan pembelaan kepada kaum miskin, anak yatim, atau penderita cacat mental. Dia merawat anak yatim dan memberikan bekal pendidikan. Ia juga memberikan perawatan bagi orang dengan gangguan jiwa.

Rufaidah digambarkan memiliki kepribadian yang luhur dan empati tinggi. Selain Rufaidah, masih ada banyak Muslimah yang merupakan perawat, di antaranya Ku'ayibat, Ami nah binti Abi Qays al-Ghi fari, Ummu Atiyah al-Ansariyat, Nusaibat binti Ka'ab al-Mazi niyat, dan Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata. 

sumber : Dialog Jumat
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA