Komunitas Muslim Kanada Sambut Ramadhan dengan Sederhana

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

 Selasa 07 Apr 2020 20:11 WIB

Komunitas Muslim Kanada Sambut Ramadhan dengan Sederhana. Foto: Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Komunitas Muslim Kanada Sambut Ramadhan dengan Sederhana. Foto: Ilustrasi Ramadhan

Masjid-masjid di Kanada kosong dalam tiga pekan terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, OTTAWA -- Di hari Jumat siang yang normal, masjid-masjid di Kanada biasanya dipenuhi oleh ratusan orang yang beribadah. Mereka berdiri berhimpitan bahu dan mengikuti arahan seorang imam.

Tetapi selama tiga pekan terakhir, masjid-masjid menjadi kosong dan sunyi.  Pusat-pusat komunitas telah menutup pintu mereka mengikuti rekomendasi ahli kesehatan untuk tinggal di rumah guna memperlambat penyebaran Covid-19.

Dan bukan hanya shalat Jumat yang dibatalkan. Komunitas Muslim New Brunswick, Kanada sedang bersiap untuk menghabiskan bulan Ramadhan, dan mungkin Idul Fitri, di dalam ruangan.

Pekan ini, New Brunswick kembali memperpanjang keadaan daruratnya selama dua minggu. Aturan membuat jarak antar individu, melarang pertemuan dalam bentuk apapun, termasuk untuk alasan agama, terus disuarakan.

Jumlah kasus di negara ini mengalami peningkatan setiap hari. Total, 91 kasus terkonfirmasi Kamis (2/4) kemarin. Perubahan angka secara signifikan diprediksi tidak terjadi dalam waktu dekat.

Bulan suci Ramadhan diperkirakan akan dimulai pada akhir April. Itu berarti warga Moncton harus melakukan shalat malam hari, atau tarawih, sendirian di rumah.

"Dalam beberapa tahun terakhir, dengan peningkatan populasi yang signifikan di Moncton, ini merupakan masalah yang cukup besar. Ada banyak orang yang muncul untuk shalat ini di masjid," kata salah satu warga Moncton, Riaz Akhtar, dikutip di CBC, Selasa (7/4).

Akhtar mengatakan pada hari Jumat biasanya, 200 hingga 250 orang akan berpartisipasi dalam shalat Jumat berjamaah. Masjid penuh sesak dengan umat Muslim. Jumlah yang sama terlihat di wilayah Saint John dan Fredericton. Tapi kini segalanya berbeda.

"Kami sangat bergantung pada diri kami sendiri. Dan karena itu Anda merasa sedikit terisolasi," kata Akhtar.

Presiden Asosiasi Islam Saint John, Abdul Rahimi mengatakan, pertemuan besar untuk merayakan Idul Fitri di akhir Ramadhan memiliki kemungkinan dibatalkan. Biasanya saat shalat ied, Masjid Saint John mampu menampung lebih dari seribu orang.

"Kami berharap untuk (berita) bagus. Jika semuanya berjalan dengan baik, kita akan melakukan sholat Ied, tetapi kita harus mematuhi hukum," ucapnya.

Dia mengatakan masjidnya biasanya mengundang seorang imam untuk berkunjung dari Ontario dan memberikan khotbah Idul Fitri. Pembatasan perjalanan dan mandat isolasi 14 hari setelah melintasi perbatasan provinsi akan menyulitkan rencana tersebut.

Asosiasi Islam Fredericton, Mohamed El-Bayoumi mengatakan, shalat Jum'at memegang tempat khusus bagi orang-orang. Dia mengatakan beberapa orang mengikuti khutbah Jumat secara daring atau melalui radio, tetapi itu bukan pengalaman yang sama.

Dan kini, cara tersebut sudah tidak mungkin dilakukan. Dia mengatakan shalat Jumat di seluruh dunia telah dibatalkan. "Ketika saya masih terlalu muda untuk pergi ke mana pun, saya tahu kami biasa menyalakan radio pada hari Jumat dan mendengarkannya," ucapnya.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X