Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Italia Tes Antibodi Petugas Kesehatan untuk Kembali Bekerja

Selasa 07 Apr 2020 08:41 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Pemandangan jalanan yang sepi saat masa lockdown menyusul pandemic virus Corona baru (Covid-19) di Milan, Italy, Ahad (29/3). Italia sedang dalam masa lockdown total sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran Corona virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19

Pemandangan jalanan yang sepi saat masa lockdown menyusul pandemic virus Corona baru (Covid-19) di Milan, Italy, Ahad (29/3). Italia sedang dalam masa lockdown total sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran Corona virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19

Foto: ANGELO CARCONI/EPA EFEZ/ANSA
Petugas kesehatan yang memiliki kekebalan corona di Italia bisa kembali bekerja.

REPUBLIKA.CO.ID, PADUA -- Otoritas di Italia utara telah mulai melakukan tes antibodi untuk petugas kesehatan, Senin (6/4). Upaya itu dilakukan agar dapat mengidentifikasi individu dengan kekebalan terhadap virus corona agar bisa kembali bekerja.

Baca Juga

Wilayah timur laut Veneto memulai tes darah pada petugas kesehatan. Langkah tersebut sebelumnya telah dilakukan oleh reginonal Emilia Romagna yang memulai tes sejak minggu lalu.

"Saya dapat mengumumkan bahwa tes darah pada petugas kesehatan telah dimulai," kata gubernur regional Luca Zaia.

Setelah fase awal pengujian pada 2.000-3.000 pekerja kesehatan, tes akan diperluas untuk staf dan penduduk di panti jompo dan pekerja yang berhubungan dengan masyarakat. Zaia mengatakan, tujuan tes itu pada akhirnya akan memungkinkan pihak berwenang untuk mengeluarkan "lisensi" bagi individu dengan kekebalan virus untuk kembali bekerja.

Tes dilakukan ketika jumlah kematian dan infeksi telah rata dan pemerintah telah mulai mempertimbangkan tahap 2 krisis. Momen itu ketika bisnis dan industri ditutup selama lockdown dapat mulai dibuka kembali. Jumlah total kasus yang dikonfirmasi meningkat hanya 3.599 menjadi 132.547 pada Senin. Itu menjadi kenaikan harian terendah sejak 17 Maret.

Tes tersebut akan melihat kerja antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh dalam menanggapi penyakit. Tes itu lebih sederhana daripada tes usap pada lendir yang digunakan untuk menemukan virus, meski ada keraguan tentang hasil yang dapat diandalkan.

"Beberapa mengatakan mereka akan bekerja, yang lain mengatakan mereka tidak mau. Itu semua harus dibuktikan tetapi begitulah cara pembuatan vaksin juga," kata Zaia.

Tes darah yang menghasilkan hasil jauh lebih cepat daripada tes swab bertujuan untuk mengidentifikasi dua jenis antibodi. Fungsi pertama yang menunjukkan kontak dengan virus dan yang kedua yang akan menunjukkan apakah tubuh telah mengembangkan pertahanan terhadapnya.

"Kami mulai memverifikasi apakah tes ini efektif dan apakah mereka sesuai dengan analisis molekuler," kata profesor virologi di Universitas Padua, Andrea Crisanti, yang sedang melakukan pengujian dengan University of Verona.

Crisanti menyatakan, timnya akan menunggu sekitar dua hingga empat pekan untuk melihat data yang dihasilkan. Melalui data itu mereka baru bisa mempertimbangkan kepercayaan penggunaan tes. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA