Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Kondisi Memburuk, PM Inggris Masuk ICU

Selasa 07 Apr 2020 05:32 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/Idealisa Masyrafina/ Red: Indira Rezkisari

Petugas kepolisian berjaga di luar RS St Thomas di London, Inggris, Senin (6/4). PM Inggris Boris Johnson terpaksa dirawat di ICU RS sakit ini setelah kondisinya memburuk.

Petugas kepolisian berjaga di luar RS St Thomas di London, Inggris, Senin (6/4). PM Inggris Boris Johnson terpaksa dirawat di ICU RS sakit ini setelah kondisinya memburuk.

Foto: AP
Setelah 10 hari kondisi Covid-19 PM Inggris bertambah buruk.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson terpaksa dilarikan ke ruang intensive care unit (ICU). Hal tersebut dilakukan lantaran konodisi Johnson terus memburuk akibat Corona yang dia derita sejak beberapa waktu lalu.

"Sepanjang siang ini, kondisi Perdana Menteri telah memburuk dan atas saran tim medisnya, ia telah dipindahkan ke Unit Perawatan Intensif di rumah sakit," kata seorang Juru Bicara pemerintah seperti diwartakan Reuters, Selasa (7/4).

Johnson masuk ke ruang ICU sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Dia ditempatkan di sebuah ruang dimana kasus paling serius dirawat di rumah sakit St Thomas di seberang Sungai Thames dari Rumah Parlemen di London pusat.

Meski masuk ruang rawat intensif, otoritas setempat memastikan bahwa Johnson masih dalam kondisi sadar. Mantan menteri luar negeri itu masih memiliki semangat yang baik dan masih memegang kendali pemerintahan.

Inggris tidak memiliki rencana untuk mengganti sosok Johnson jika nanti dirinya tidak sadarkan diri. Politikus yang dikenal dengan gaya rambut berantakan itu telah menunjuk Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab untuk mewakilinya jika hal terburuk terjadi.

"PM telah meminta Menteri Luar Negeri Dominic Raab, yang merupakan Sekretaris Pertama Negara untuk mewakili dia jika diperlukan," katanya.

Boris Johnson telah masuk ruang perawatan rumah sakit akibat paparan Covid-19. Dia lantas kembali menjalani tes setelah menderita gejala coronavirus yang persisten, termasuk suhu tinggi, selama lebih dari 10 hari.



Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA