Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Jangan Sedih, Allah Bersama Kita

Selasa 07 Apr 2020 07:22 WIB

Red: A.Syalaby

Petugas bersiap menurunkan jenazah pasien COVID-19 dari mobil ambulans saat akan dimakamkan di pemakaman Macanda, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (5/4/2020). Jumlah pasien positif COVID-19 di Sulsel per hari Minggu (5/4) telah mencapai 80 kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak sembilan orang, sementara kasus kematian sebanyak enam orang.

Petugas bersiap menurunkan jenazah pasien COVID-19 dari mobil ambulans saat akan dimakamkan di pemakaman Macanda, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Minggu (5/4/2020). Jumlah pasien positif COVID-19 di Sulsel per hari Minggu (5/4) telah mencapai 80 kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak sembilan orang, sementara kasus kematian sebanyak enam orang.

Foto: ANTARA/Abriawan Abhe
Kesedihan sudah menjadi penyakit alam seluruhnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Ujian pada masa pandemi Covid-19 belum menampakkan akhir. Di sisi lain, statistik hilangnya nyawa akibat virus itu terus bertambah. Manusia di berbagai belahan dunia mengalami ketakutan dan kesedihan.

Perasaan tertekan dalam jiwa manusia di dalam Alquran dibahasakan dengan kata sedih (hazan) dan takut (khauf). Perasaan ini tergambar saat Rasulullah SAW bersembunyi di Gua Tsur bersama sahabat setianya, Abu Bakar ash-Shidiq. Mereka mendengar dari dalam gua suara seorang gembala. Dia sedang bercakap-cakap dengan sekelompok pemuda Quraisy yang sedang memburu Muhammad.

"Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana," ujar sang gembala seperti dikutip dari Sejarah Hidup Muhammad karangan Muhammad Husain Haekal.

Ketika mendengar jawaban gembala itu, Abu Bakar terlihat berkeringat. Dia khawatir mereka menyerbu ke dalam gua. Dia pun menahan napas tidak bergerak. Dia serahkan nasibnya kepada Allah Sang Penguasa. Orang-orang Quraisy pun datang menaiki gua itu kemudian turun kembali. "Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir," kata dia.

Pemuda itu pun menjelaskan bahwa dia melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Karena itu, dia berkesimpulan tak mungkin ada manusia di dalamnya. Muhammad semakin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakar terlihat ketakutan. Dia pun merapatkan diri kepada Nabi. Lantas, Rasulullah SAW berbisik kepadanya, "La Tahzan. Innallaha ma'ana." Artinya, jangan bersedih hati, Tuhan bersama dengan kita.

Penulis buku best seller La Tahzan, Aidh al-Qarni, menjelaskan tentang makna sesungguhnya dari judul buku bermakna 'jangan bersedih' itu. Menurut dia, kesedihan sudah menjadi penyakit alam seluruhnya. Muslim atau bukan Muslim, orang pasti mengalami kesedihan. Sedih karena sakit, sedih karena meninggal, sedih karena kesulitan hidup dan berbagai masalah. "Jadi, karena alasan itulah makanya buku ini saya beri judul La Tahzan."

Sementara, makna khauf tersebar di beberapa surah di dalam Alquran. Sebagai contoh, QS al-Ahzab (33): 72. "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir (khauf) akan mengkhianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh."

Ayat ini menyebutkan bahwa manusia sanggup untuk memikul amanat berupa ibadah dan taat kepada Allah SWT. Padahal, langit, bumi, dan gunung tidak mampu memikul amanat itu. Manusia pun merasa takut atas konsekuensi yang diambilnya tersebut.

Allah Ta'ala memang sudah berjanji akan memberikan kepada manusia beragam rasa di dalam jiwa, mulai dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, hingga buah-buahan. Namun, Allah mengungkapkan, berita gembira akan didapatkan orang-orang yang sabar saat mendapatkan musibah. Mereka pun mengucapkan, "Innalillahi wainnailaihirajiun." Mereka adalah orang yang mendapatkan keberkahan sempurna dan rahmat dari Allah. Mereka pun mendapatkan petunjuk.

Mengucapkan kalimat "innalillahi wainnailaihirajiun" bukanlah sebatas ucapan belasungkawa. Dengan mengucapkan kalimat tersebut, mereka menghibur diri saat mendapatkan musibah. Mereka yakin bahwa sesungguhnya segala sesuatu termasuk diri, keluarga, dan semua hartanya adalah milik Allah SWT. Dia memberlakukan terhadap hamba-hamba-Nya menurut apa yang Dia kehendaki.

sumber : Dialog Jumat
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA