Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Gletser Denman Tenggelam ke Ngarai Terdalam di Dunia

Senin 06 Apr 2020 12:57 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Gletser mencair (ilustrasi)

Gletser mencair (ilustrasi)

Foto: REUTERS
Gletser Denman kehilangan 268 miliar ton selama 20 tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gletser Denman yang berada di Antartika dilaporkan telah mencair dan tenggelam ke salah satu ngarai raksasa terdalam di dunia. Dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters pada 23 Maret lalu, hal ini disebut dapat memberi dampak lebih buruk atas masalah yang sudah terjadi di Bumi.

Dilansir Space, para peneliti studi menggunakan data lebih dari 20 tahun satelit untuk memantau es di Gletser Denman, bersama dengan batuan dasar di bawahnya. Dari sana, ditemukan bahwa tidak hanya sisi barat geltser yang mundur hampir tiga mil (lima kilometer) antara 1996 dan 2018.

Ngarai yang dalam di bawah gletser membuat proses pencairan terjadi lebih cepat, dibandingkan dengan apa yang dapat dipulihkan. Sisi barat Gletser Denman mengalir di atas ngarai daratan terdalam di Bumi, jatuh setidaknya 11 ribu kaki (3.500 meter) di bawah permukaan laut.

Saat ini, ngarai tersebut atau yang dikenal sebagai palung Denman sebagian besar terputus dari laut karena semua es gletser yang menumpuk. Namun, ketika tepi gletser terus mundur semakin jauh ke bawah lereng, air laut yang hangat akan mengalir ke ngarai, menghantam bagian gletser yang lebih besar dan secara bertahap mengubah palung Denman menjadi mangkuk raksasa yang menampung lelehan air.

Para peneliti mencatat skenario tersebut dapat memulai putaran umpan balik yang mencair yang pada akhirnya mengembalikan semua es di Gletser Denman ke laut. Ini berisiko menyebabkan hingga hampir 1,5 meter kenaikan permukaan air laut dunia.

"Karena bentuk tanah di bawah sisi barat Denman, ada potensi untuk mundur cepat dan tidak dapat diubah, dan itu berarti peningkatan besar permukaan laut global di masa depan," kata pemimpin penulis studi yang berasal dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Virginia Brancato.

Gletser adalah lempengan es raksasa yang berada di atas batuan dasar benua. Sebagian besar gletser di Antartika, termasuk Denman, berakhir di rak-rak es besar atau "lidah" yang menjorok keluar dari daratan dan ke lautan terbuka, di mana tepinya perlahan-lahan pecah berkeping-keping dan membentuk gunung es baru.

Titik di mana gletser pertama-tama meninggalkan batuan dasar dan mulai mengapung di air disebut garis landasan. Lokasi garis ini adalah kunci stabilitas gletser. Ketika air laut yang hangat melelehkan es gletser yang terbuka, garis dasar mundur semakin jauh, membuat lapisan es di dekatnya menjadi kurang stabil dan lebih rentan cair dan retak.

Dalam studi baru, para peneliti menggunakan data satelit dari German Aerospace Center dan Badan Antariksa Italia mengukur seberapa jauh garis landasan Gletser Denman mundur dalam 22 tahun, antara 1996 dan 2018. Dari sana, terlihat es mencari secara luas dan  Denman kehilangan lebih dari 268 miliar ton (2,43 metrik ton) es selama dua dekade tersebut.

Jika pemanasan global yang terjadi saat ini terus berlanjut, palung Denman bisa menjadi malapetaka bagi gletser.  Saat garis dasar gletser terus tenggelam lebih jauh ke bawah ngarai yang sudah berada di bawah permukaan laut, air lautan yang hangat akan menghantam bagian tepi gletser yang lebih besar. Ini menyebabkannya mencair lebih cepat dan membuat lapisan es genting di atas semakin ganas. rentan untuk runtuh.

Kemungkinan ini harus menjadi peringatan bagi para ilmuwan yang sebelumnya menganggap es mencari di Antartika Timur adalah ancaman yang relatif ringan, dibandingkan dengan gletser Pulau Pinus dan Thwaites yang mencair dengan cepat di Antartika Barat.

"Es di Antartika Barat telah mencair lebih cepat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi ukuran tipis Gletser Denman berarti bahwa dampak potensial pada kenaikan permukaan laut jangka panjang sama pentingnya," rekan penulis studi Eric Rignot, yang juga merupakan seorang profesor di bidang ilmu pengetahuan sistem Bumi di University of California.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA