Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Lockdown Diganggu Pengusaha Kebun Kopi di Wabah Pes 1911

Ahad 05 Apr 2020 12:44 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Tikus Liar (ilustrasi)

Tikus Liar (ilustrasi)

Pes berasal dari kutu tikus yang menggigit manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar

Pada 20 April 1911 muncul tiga kasus demam di Kediri. Esok harinya, 21 April, muncul 13 kasus, lima di antaranya meninggal. Pada 22 April, pemerintah Hindia Belanda menyampaikan telegram mengenai kasus pes di Jawa ini ke Belanda. Pada 24 April muncul lagi sembilan kasus, tiga di antaranya meninggal.

Wabah pes bermula di Malang, Jawa Timur, yang kemudian merembet ke Kediri. Pes berasal dari kutu tikus yang menggigit manusia. Maka, perburuan tikus pun dilakukan. Di Malang, hingga 9 Mei 1911, telah ada 35.544 tikus yang dibunuh. Per 9 Mei itu juga, sebanyak 27 warga Malang tercatat meninggal akibat wabah pes ini.

Di Surabaya, tikus yang dibunuh selama 30 April sampai 6 Mei 22.716 ekor. Dari 10 April hingga 6 Mei, ada 115.274 ekor di Pasuruan yang dibunuh. Sepuluh warga Pasuruan telah meninggal akibat wabah pes ini.

Pemerintah mengarantina Malang dan daerah-daerah yang terkena wabah. Istilah sekarang disebut lockdown atau kuncitara, seperti yang dikenalkan dosen Universitas Indonesia Ibnu Wahyudi. Kuncitara berasal dari kunci dan sementara, bisa pula dari kunci dan tara. Tara adalah kayu berpaku untuk membuat garis di kayu, seperti membuat batas. Lockdown memang penguncian sementara dilakukan untuk wilayah dengan batas administratif.

Barisan tentara diturunkan untuk menjaga pelaksanaan kuncitara di Malang saat itu. Namun pada Mei 1912, kuncitara dibuka atas permintaan pemilik perkebunan kopi. Permintaan itu diajukan karena jika dikuncitara terus, perkebunan tak akan mendapatkan tenaga pemetik kopi.

“Sebagai akibatnya, wabah meningkat lagi dalam waktu yang sangat singkat, menewaskan ribuan dan puluhan ribu orang Jawa,’’ ujar JC Ceton, ketua Partai Sosial Demokrat (Sociaal-Democratische Partij - SDP), di pertemuan publik di Plancius, Amsterdam, 31 Oktober 1913.

SDP menyampaikan manifesto pembunuhan pemerintah terhadap penduduk lewat wabah pes di Jawa. Ceton menegaskan pemerintah Belanda dan kapitalisme Belanda telah melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap orang Jawa.

Keberadaan kapitalis di Hindia Belanda yang sebatas mencari keuntungan dikritik habis terkait dengan intervensi kuncitara itu. Pada 1913 itu, SDP menuntut pemberlakuan lagi kuncitara agar wabah pes tidak terus meluas.

Kuncitara memang diakui berhasil menekan jumlah korban hingga April 1912 itu. Pencabutan kuncitara berdampak luar biasa. Wabah pes ini menyebar ke barat, ke Jawa Tengah dan sedikit di Jawa Barat dan berlangsung hingga 1926. Selama 1911-1926 itu, ada sekitar 120 ribu orang yang meninggal karenanya. Di Jawa Tengah saja ada 214 kecamatan di 67 kabupaten di enam karesidenan yang terkena wabah pes.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA