Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Monday, 2 Syawwal 1441 / 25 May 2020

Spanyol Perpanjang Lockdown

Ahad 05 Apr 2020 08:07 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari

Petugas medis memindahkan pasien di rumah sakit lapangan sementara yang didirikan di Ifema convention and exhibition centre, Madrid, Spanyol, Selasa (31/3). Spanyol sejak Sabtu (4/4) memperpanjang lokcdown hingga 26 April 2020.

Petugas medis memindahkan pasien di rumah sakit lapangan sementara yang didirikan di Ifema convention and exhibition centre, Madrid, Spanyol, Selasa (31/3). Spanyol sejak Sabtu (4/4) memperpanjang lokcdown hingga 26 April 2020.

Foto: EPA/MADRID REGIONAL PRESIDENCY
Upaya perpanjangan lockdown diharap bantu tekan kematian akibat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez meminta parlemen memperpanjang masa kebijakan lockdown selama 15 hari hingga 26 April 2020 mulai Sabtu (4/4) waktu setempat. Kebijakan tersebut menyusul angka kasus infeksi serta kematian akibat virus corona tipe baru atau Covid-19 yang melambat.

Dalam pidato yang disiarkan televisi negara, Sanchez mengatakan kebijakan lockdown saat ini mulai menunjukkan hasil. Meski ia memperingatkan perpanjangan dari keadaan darurat negara kali ini tidak akan menjadi yang terakhir.

"Kami berada di awal penurunan epidemi. Kita lebih kuat dari yang kita kira tetapi kita harus bertahan. Dengan pengorbanan, perlawanan dan semangat kemenangan," ujar Sanchez. Menurutnya beberapa batasan ekonomi akan dicabut setelah Paskah.

"Kami tidak akan memperpanjang kemandekan kegiatan ekonomi," katanya. Namun, toko, bar, dan restoran akan tetap tutup.

Sanchez juga menegaskan kembali dukungannya untuk peluncuran utang bersama yang dikeluarkan oleh anggota zona euro sebagai cara untuk melawan dampak ekonomi virus corona. Itu merupakan sebuah ide yang diperjuangkan oleh Spanyol dan Italia tetapi ditolak oleh Jerman dan anggota UE utara lainnya.

"Tidak ada yang salah, pemerintah Spanyol akan bekerja untuk dan mempertahankan dan tidak akan pernah meninggalkan persatuan Eropa karena ini adalah solidaritas, ini adalah Eropa. Penentuan pemerintah adalah total dan absolut," katanya.

Korban kematian akibat virus corona di Spanyol naik menjadi 11.744 pada Sabtu, ini adalah angka tertinggi kedua di dunia setelah Italia. Namun, angka kematian sebanyak 809 orang yang meninggal selama 24 jam terakhir berada di bawah 932 kematian pada Jumat dan juga turun dari rekor harian 950 pada Kamis, menurut Kementerian Kesehatan negara.

Angka tersebut juga mewakili peningkatan tujuh persen dalam total kematian, dibandingkan dengan peningkatan sekitar 20 persen yang terdaftar seminggu yang lalu. Sementara jumlah total infeksi terdaftar naik dari 117.710 pada Jumat (3/4) menjadi 124.736 pada Sabtu (4/4), dan menempatkan Spanyol di atas Italia, yang melaporkan 124.632 infeksi pada Sabtu.

"Angka-angka tersebut mengkonfirmasi tren penurunan yang telah kita lihat dalam beberapa hari terakhir," kata  Wakil Kepala Darurat Kesehatan Spanyol, Maria Jose Sierra. Namun, ia mengakui bahwa ada banyak kasus corona ringan yang tidak termasuk dalam angka karena pihaknya berkonsentrasi pada kasus yang paling serius.

Spanyol mengatakan,  Turki telah menerima permintaan ventilator yang dipesan oleh Madrid. "Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Turki telah menempatkan serangkaian pembatasan pada ekspor spektrum luas produk kesehatan, terutama dimotivasi oleh kepeduliannya untuk dapat memasok sistem kesehatannya sendiri," ujar Menteri Luar Negeri Spanyol Arancha Gonzalez, dilansir dari Reuters.



Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA