Ahad 05 Apr 2020 07:28 WIB

Inggris Bahas Langkah Baru Setelah Lockdown Selesai

Inggris akan tetap mempertahankan lockdown hingga akhir Mei

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih
Orang-orang menjaga jarak di bangku di Taman St Jame, London Inggris, Selasa (24/3). Inggris akan tetap mempertahankan lockdown hingga akhir Mei.
Foto: EPA
Orang-orang menjaga jarak di bangku di Taman St Jame, London Inggris, Selasa (24/3). Inggris akan tetap mempertahankan lockdown hingga akhir Mei.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Inggris akan tetap mempertahankan lockdown hingga akhir Mei. Peningkatan kasus membuat pemerintah baru bisa mempertimbangkan langkah selanjutnya pada masa tersebut.

"Kami ingin pindah ke situasi di mana setidaknya pada akhir Mei kami dapat menggantikan beberapa langkah yang kurang intensif, lebih didasarkan pada teknologi dan pengujian, untuk lockdown menyeluruh yang kami miliki sekarang," kata profesor matematika biologi di Imperial College London  Neil Ferguson.

Baca Juga

Pemerintah telah menempatkan Inggris dalam isolasi yang luas dengan menutup bar, restoran, dan hampir semua toko. Orang-orang juga diperintahkan untuk tinggal di rumah kecuali benar-benar penting untuk berada di luar.

Perintah ini dirancang untuk membatasi penyebaran Covid-19 di negara itu. Saat ini, Inggris memiliki hampir 42 ribu kasus yang dikonfirmasi.

Jumlah kematian Inggris dari virus corona naik 20 persen menjadi 4.313 pada Jumat (3/4) sore dengan 708 kematian baru tercatat. Kementerian Kesehatan melaporkan  jumlah tersebut turun dibandingkan dengan kenaikan 23 persen satu hari sebelumnya.

Ferguson menyatakan puncak kasus baru bisa datang dalam sepekan atau 10 hari. Namun, kepatuhan terhadap aturan ketat akan menentukan seberapa cepat tingkat infeksi menurun setelah itu.

“Ini cukup seimbang pada saat ini,” kata Ferguson. Dia menyatakan bahwa Inggris dapat memiliki tingkat infeksi yang cukup tinggi selama beberapa pekan mendatang ketika warga mulai bersosialisasi lagi.

Inggris awalnya mengambil pendekatan yang terkendali terhadap wabah itu. Namun, Perdana Menteri Boris Johnson mengubah taktik dan memberlakukan langkah-langkah sosial yang ketat setelah pemodelan Ferguson menunjukkan seperempat juta orang di negara itu bisa meninggal dunia.

Tanggapan tersebut telah terhambat oleh kurangnya ventilator dan ketidakmampuan untuk melakukan pengujian massal. Padahal ini sangat berguna untuk menentukan apakah masyarakat, khususnya petugas kesehatan, telah terinfeksi virus corona atau tidak.

Johnson pun telah mengundang para pemimpin partai oposisi untuk melakukan pengarahan pekan depan dengan para penasihat medis, termasuk pemimpin baru Partai Buruh, Keir Starmer. Upaya ini dilakukan ketika dia melakukan karantina pribadi karena positif Covid-19. "Sebagai pemimpin partai kita memiliki tugas untuk bekerja bersama pada saat darurat nasional ini," kata Johnson.

Meski telah direncanakan pertemuan untuk membahas langkah-langkah, beberapa mempertanyakan strategi jangka panjang. Penasihat senior pemerintah kedua, kepala model pandemi Graham Medley, merasa khawatir Inggris dalam kondisi sulit. Hal ini dilihat dari tidak ada jalan keluar yang jelas dari strategi yang akan merusak kesejahteraan ekonomi dan mental banyak orang.

Hampir satu juta orang telah mengajukan tunjangan kesejahteraan hanya dalam dua pekan di Inggris. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi akan menghadapi depresi yang bisa lebih buruk daripada kemerosotan pada 1930-an.

"Jika kita melanjutkan dengan lockdown, itu memberi kita lebih banyak waktu. Kita bisa mendapatkan lebih banyak pemikiran dimasukkan ke dalamnya, tetapi itu tidak menyelesaikan apa pun. Itu adalah nihil," kata Medley kepada surat kabar Times.

Menteri Kesehatan Matt Hancock telah menetapkan 100 ribu tes per hari pada akhir bulan ini. Keputusan ini artinya terjadi peningkatan sepuluh kali lipat dari pengujian yang biasanya dilakukan.

Akan tetapi industri justru kebingungan karena saat ini Inggris sedang kekurangan peralatan. Hancock juga mempertimbangkan kondisi kekebalan di masyarakat terhadap penyebaran virus. Secara terpisah pemerintah mengatakan akan membebaskan tahanan yang dianggap berisiko rendah. Langkah ini dipertimbangkan untuk mencegah penyebaran virus di penjara.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement