Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Sudah Pernah Positif Covid-19, Akankah Orang Jadi Kebal?

Sabtu 04 Apr 2020 00:33 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda

Rapid test. Ilmuwan belum memiliki jawaban atas pertanyaan tentang kemungkinan orang yang pernah positif Covid-19 menjadi kebal terhadap infeksi virus corona tipe baru itu,

Rapid test. Ilmuwan belum memiliki jawaban atas pertanyaan tentang kemungkinan orang yang pernah positif Covid-19 menjadi kebal terhadap infeksi virus corona tipe baru itu,

Foto: Yogi Ardhi/Republika
Sistem kekebalan tubuh biasanya terbentuk ketika virus menginfeksi seseorang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mereka yang pernah dinyatakan positif Covid-19 dan sembuh, tentunya akan memiliki beragam pertanyaan. Salah satunya adalah bagaimana kekebalan tubuh mereka, akankah bisa terkena lagi? Hanya saja, para ilmuwan saat ini masih fokus mencari vaksin sehingga belum bisa menjawab pertanyaan tersebut.

"Sistem kekebalan selalu terbentuk ketika virus masuk ke tubuh, tetapi pertanyaannya adalah berapa lama itu bertahan? Saat ini, kami sedang mempelajari jawaban untuk pertanyaan itu,” kata mantan Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, Dr Robert Amler, seperti dikutip Fox News.

Beberapa orang yang pernah terpapar virus ini mungkin telah mengembangkan sistem kekebalan tubuhnya dari virus corona dan virus-virus lainnya. Tetapi, menurut seorang profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Rochester, Ann Falsey, kekebalan tidak bisa bertahan seumur hidup.

"Jika melakukan tes darah pada sejumlah orang yang berlalu-lalang di jalan, mereka mungkin telah memiliki sistem kekebalan tubuh terhadap empat jenis virus corona yang diketahui sebelumnya. Sebagian besar kekebalan itu hanya untuk setahun atau dua tahun, itu yang kita sebut virus corona musiman," kata Falsey.

Terlebih lagi, studi baru yang dilakukan oleh para ilmuwan China menunjukkan bahwa orang yang pernah terinfeksi sebelumnya dapat terinfeksi lagi dengan virus jenis baru, yang pada akhirnya menyebabkan gelombang penyakit kedua.  Para ahli juga mengatakan, beberapa orang yang sebelumnya pernah terinfeksi dua jenis virus corona lain yang serupa dengan Covid-19, yakni MERS dan SARS, tampak telah mengembangkan beberapa sistem kekebalan terhadap tubuh mereka.

Baca Juga

Akan tetapi, ini tidak terjadi pada semua orang. Selain itu, sebuah studi tentang respons sistem kekebalan tubuh pada mereka yang selamat dari wabah MERS 2012 memperlihatkan adanya sistem kekebalan terhadap virus selama sekitar 18 bulan dari awal terinfeksi.

Selain meningkatkan kemampuan pengujian untuk mencari tahu infeksi Covid-19 aktif pada mereka yang mengalami gejala, seperti demam, batuk kering, dan sesak napas, beberapa laboratorium akademik dan perusahaan medis mulai memproduksi tes darah. Ini dilakukan untuk mengidentifikasi sistem kekebalan tubuh yang memerangi virus corona pada mereka yang sudah terinfeksi.

"Apa yang dilakukan ini adalah mengambil plasma dari orang yang telah terinfeksi virus, memproses plasma, dan menyuntikkan sistem kekebalan ke orang yang sakit. Ada beberapa percobaan ketika seseorang disuntik dengan sistem kekebalan, kemudian merangsang mereka untuk sebagian besar sistem kekebalan tubuh mereka untuk melawan penyakit," ujar Gubernur New York, Andrew Cuomo, yang sedang menguji coba ini di wilayahnya.

Mungkin saja Covid-19 tidak pernah hilang sepenuhnya, menjadi endemik seperti flu biasa. Dalam skenario ini, virus kemungkinan membuat dampak yang lebih kecil karena saat ini akan banyak orang memiliki kekebalan terhadapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA