Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Logistik Terganggu, Stok Barang E-Commerce Terancam

Sabtu 04 Apr 2020 06:13 WIB

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id

Logistik Terganggu, Stok Barang E-Commerce Terancam. (FOTO: Unsplash/Blake Wisz)

Logistik Terganggu, Stok Barang E-Commerce Terancam. (FOTO: Unsplash/Blake Wisz)

Logistik Terganggu, Stok Barang E-Commerce Terancam

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -- Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus Covid-19 setiap harinya, pemerintah dari berbagai negara telah menentukan langkah-langkah keselamatan, seperti penutupan seluruh akses (lockdown) dan karantina wilayah untuk melindungi masyarakat dari pandemik, dampak ekonomi mulai terlihat.  

Berbagai sektor bisnis pun turut menderita dan terkena dampak perekonomian, tidak terkecuali e-commerce. Logistik sebagai tulang punggung e-commerce, turut terkena imbas atas pemberhentian operasional sebagian besar perusahaan penerbangan, biaya kargo pun meroket tinggi sehingga mengakibatkan terganggunya ekosistem e-commerce.

"Sangat sulit bagi kita untuk menjalani kehidupan di waktu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya," ungkap Vaibhav Dabhade, Founder dan CEO Anchanto, pengembang software-as-a-service untuk industri e-commerce.

Baca Juga: Pakar Kembangkan Aplikasi Deteksi Covid-19 Via Suara

Melihat siklus operasional e-commerce saat ini, penjual online (online sellers) pada akhirnya akan mengalami kekurangan ketersediaan barang karena dibutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan produk dan menjualnya kembali secara online.

Banyak dari penjual online yang memiliki stok barang lama yang akan segera kadaluarsa, sehingga mereka harus segera menghabiskan stok barang tersebut sebelum stok barang baru tiba.

"Dalam situasi saat ini kami memperkirakan uang tunai dan likuiditas akan mengalami penurunan secara signifikan yang mengharuskan penjual online untuk bertahan sementara waktu," ujar Vaibhav.

Menurutnya, sebagian besar penjual e-commerce juga memiliki cadangan uang tunai yang terbatas, cukup untuk satu atau maksimal dua bulan. Mereka akan terus membayar biaya-biaya tetap (fixed costs) yang mana akan menimbulkan ketidakseimbangan aliran dana (cash flow) jika kondisi shutdown terus diberlakukan untuk jangka waktu yang lebih lama.

"Observasi sementara juga memperlihatkan bahwa marketplace terus berupaya menangkap peluang-peluang untuk menambah kemampuan pasar mereka meskipun seasonality curve e-commerce telah jatuh," jelas Vaibhav.

Baca Juga: Biar Kantong Tak Jebol, Begini Tips WFH dari Financial Planner

Dari sudut pandang transaksi, pasar domestik diperkirakan akan terlebih dahulu mengalami peningkatan sebelum diikuti oleh transaksi belanja online lintas batas antarnegara (cross border). Artinya, perusahaan-perusahaan dengan pasar lokal yang kuat memiliki peluang untuk pulih lebih cepat.

Pelaku industri lain dalam ekosistem, selain sektor logistik, yang mengalami penurunan secara signifikan adalah perusahaan ritel. Sehingga setelah perekonomian pulih industri e-commerce tidak akan pernah sama lagi, dan perusahaan-perusahaan akan menyadari bahwa bisnis offline tidak akan pernah cukup.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA