Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Kalahkan Covid-19 dengan Daya Tahan Tubuh yang Baik

Jumat 03 Apr 2020 16:29 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Muhammad Hafil

IDI: Kalahkan Covid-19 dengan Daya Tahan Tubuh yang Baik. Foto: Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih berpose untuk Republika saat diwawancarai diruang kerjanya di Kantor IDI, Menteng, Jakarta, Rabu (15/1).

IDI: Kalahkan Covid-19 dengan Daya Tahan Tubuh yang Baik. Foto: Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih berpose untuk Republika saat diwawancarai diruang kerjanya di Kantor IDI, Menteng, Jakarta, Rabu (15/1).

Foto: Thoudy Badai_Republika
Meningkatkan daya tahan tubuh untuk mengalahkan covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih mengatakan kunci mengalahkan virus corona atau covid-19 baik yang dirawat di RS atau yang diisolasi yaitu harus meningkatkan daya tahan tubuh. Caranya di antaranya mengkonsumsi vitamin C atau multivitamin penambah imunitas. Tidak hanya itu, orang yang terinfeksi ini juga diminta banyak beristirahat, menjaga kebersihan hingga menjaga asupan gizi makanan cukup.

Baca Juga

Ia menambahkan, penggabungan upaya itu diharapkan membuat daya tahan tubuh bagus dan akhirnya virus itu mati.  "Artinya daya tahan tubuh kita adu kuat dengan virus itu, imunitas kita yang kuat atau virus yang kuat? Kalau daya tahan tubuh kita kuat maka virus itu kalah atau sebaliknya," ujarnya saat dihubungi Republika, Jumat (3/4).

Jika daya tahan tubuh tidak meningkat signifikan bahkan hingga masa inkubasi berakhir 28 hari maka virus itu tetap hidup. Bahkan ia mengungkap bila orang terinfeksi virus ini sampai menjalani perawatan medis di RS, hasilnya belum bisa optimal karena obat Covid-19 secara spesifik belum ditemukan. "Jadi diharapkan dengan imunitas yang baik bisa membunuh virus itu," ujarnya.

Terkait dengan anggapan virus itu mati dengan berjemur, Daeng mengatakan  virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) yang telah memasuki tenggorokan penderitanya tidak akan mati hanya dengan berjemur mendapatkan panas matahari.  

"Karena di tenggorokan ada saluran napas, reseptor yang menangkap virus itu dan itu yang membuat corona bisa tetap hidup. Jadi Covid-19 yang sudah ada di tenggorokan atau saluran napas itu tidak mati hanya dengan berjemur," ujarnya.

Ia mencontohkan kalau sinar matahari yang disebut bisa membunuh seluruh virus, maka Arab Saudi yang notabene lebih panas dibandingkan Indonesia faktanya masih terjadi penularan Covid-19 di sana bahkan sampai berdampak pada penutupan jalur ibadah umroh.Karena itu ia meminta masyarakat jangan sampai keliru memahami mengenai hal ini.

Kendati demikian, ia tak menampik kemungkinan virus yang menempel di badan, baju, hingga rambut. Ia menyebutkan virus yang kenempel di luar tubuh itu memang tidak bertahan lama, bahkan ada yang mengatakan hanya sehari dan bisa mati ketika terkena panas matahari.

"Tetapi kemungkinan itu kecil sekali karena seperti yang saya bilang tadi bahwa 90 persen virus itu ada di tenggorokan, saluran napas yang tidak mati hanya dengan terkena sinar matahari," katanya.

Ia menambahkan, kalau sudah terinfeksi virus itu di tenggorokan dan bergejala maka penderitanya harus dirawat di rumah sakit (RS) rujukan atau RS darurat. Sedangkan kalau tidak menunjukkan gejala, dia melanjutkan, orang yang terinfeksi ini harus melakukan karantina isolasi mandiri di rumah selama 14 hari bahkan hingga 38 hari menurut organisasi kesehatan dunia (WHO).Tujuannya supaya percikan air liurnya saat batuk, bersin, hingga berbicara, tidak menyebabkan penularan ke yang lain.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA